15 Nov 2012

Beda Hadiah dengan Hibah

By: rnppsalatiga On: Kamis, November 15, 2012
  • Berbagi


  • Dalam syariat Islam, terdapat banyak istilah syar'i yang telah didefiniskan oleh para ulama. Mereka berusaha agar antara istilah satu dengan istilah yang lainnya tidak saling berbenturan makna-maknanya dan definisi tersebut benar-benar mencakup makna yang sempurna, tidak menimbulkan distorsi dari pengertian yang dimaksud, dan tidak bertabrakan dengan makna istilah lainnya, atau sering diistilahkan dengan definisi yang jaami' dan maani'.
    Diantara istilah-istilah syariat yang sering digunakan di masyarakat adalah istilah sedekah, hadiah, dan hibah. Ketiga istilah ini adalah kata yang menunjukkan aktivitas memberi. Namun, karena tidak dipahami maknanya dan dimana letak perbedaannya, orang sering menyebut setiap pemberian dengan sedekah. Tentu saja penggunaan ini tidak tepat, selain merancukan istilah syariat, penggunaan demikian juga bisa mengandung konsekuensi yang berbeda-beda.
    Ibnu Utsaimin mengatakan, "Sedekah adalah pemberian yang orientasinya adalah akhirat alias pahala dan ganjaran di akhirat. Sedangkan hadiah adalah pemberian yang tujuannya adalah meraih simpati dan rasa suka pihak yang diberi kepada pihak yang memberi.
    Adapun hibah adalah pemberian yang tujuannya adalah memberi manfaat kepada pihak yang diberi dengan “menutup mata” apakah akan mendapatkan pahala di akhirat ataukah tidak dan apakah akan mendapatkan simpati dari pihak yang diberi ataukah tidak." (Ibnu Utsaimin dalam Ta'liq beliau untuk al-Qawaid wal Ushul al-Jamiah karya Ibnu Sa'di Hal. 92 terbitan Yayasan Sosial Ibnu Utsaimin cet pertama 1430 H).

    14 Nov 2012

    Pentingnya Pendidikan Islam

    By: rnppsalatiga On: Rabu, November 14, 2012
  • Berbagi

  • Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selam kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. 
    Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.
    Sedemikian pentingnya ilmu, maka tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi Allah maupun manusia. (QS. Al Mujadilah (58) : 11)
    Bahkan syaithan kewalahan terhadap orang muslim yang berilmu, karena dengan ilmunya, ia tidak mudah terpedaya oleh tipu muslihat syaithan.
    Muadz bin Jabal ra. berkata: “Andaikata orang yang beakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut namun sebaliknya, andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”
    Ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal shalihnya.”
    Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah. Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah.
    II. Pentingnya Pendidikan Islam
    Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan.
    Pendidikan Islam memiliki 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu: tilawah (membacakan ayat Allah), tazkiyah (mensucikan jiwa) dan ta’limul kitab wa sunnah (mengajarkan al kitab dan al hikmah). Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan. Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak beramal.
    Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahpan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan. (QS. Ali Imran (3) : 103)
    Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja. 
    Kehidupan mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Hasil ilmu yang diperolehnya adalah kenikmatan yang besar, yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan. 
    Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh.  
    Interaksi di dalam diri ini memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji Al Qur’an, sholat malam, shoum (puasa) sunnah, berhubungan kepada keluarga dan masyarakat. Semakin sering ia melakukan latihan, maka semakin banyak amalnya dan semakin mudah ia melakukan kebajikan. Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari.
    III. Kesinambungan dalam Pendidikan Islam
    Pendidikan Islam dalam bahasa Arab disebut tarbiyah Islamiyah merupakan hak dan kewajiban dalam setiap insan yang ingin menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai akhir hayat.” Maka menuntut ilmu untuk mendidik diri memahami Islam tidak ada istilah berhenti, semaki banyak ilmu yang kita peroleh maka kita bertanggung jawab untuk meneruskan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan berilmu, disinilah letak kesinambungan.
    Selain merupakan kewajiban, kegiatan dididik dan mendidik adalah suatu usaha agar dapat memiliki ma’dzirah (alasan) untuk berlepas diri bila kelak diminta pertanggungjawaban di sisi Allah SWT yakni telah dilakukan usaha optimal untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain pada kebenaran sesuai manhaj yang diajarkan Rasulullah SAW.
    Untuk menghasilkan Pendidikan Islam yang berkesinambungan maka dibutuhkan beberapa sarana, baik yang mendidik maupun yang dididik, yaitu:
    1. Istiqomah
    Setiap kita harus istiqomah terus belajar dan menggali ilmu Allah, tak ada kata tua dalam belajar, QS. Hud (11) : 112, QS. Al Kahfi (18) : 28
    2. Disiplin dalam tanggung jawab
    Dalam belajar tentu kita membutuhkan waktu untuk kegiatan tersebut. sekiranya salah satu dari kita tidak hadir, maka akan mengganggu proses belajar. Apabila kita sering bolos sekolah, apakah kita akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Kita akan tertinggal dengan teman-teman kita, demikian pula dengan guru, apabila ia sering membolos tentu anak didiknya tidak akan maju karena pelajaran tidak bertambah.
    3. Menyuruh memainkan peran dalam pendidikan
    Setiap kita dituntut untuk memerankan diri sebagai seorang guru pada saat-saat tertentu, memerankan fungsi mengayomi, saat yang lainnya berperan sebagai teman. Demikiannya semua peran digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pendidikan.

    CARA PRAKTIS MEMOTIVASI DIRI

    By: rnppsalatiga On: Rabu, November 14, 2012
  • Berbagi





  • Pernahkah Anda merasa kurang termotivasi untuk melakukan sesuatu, seperti belajar atau bekerja?  Sungguh tidak enak rasanya melakukan sesuatu tanpa motivasi.  Motivasi adalah faktor penting dalam usaha kita.  Motivasi dapat mempengaruhi kinerja kita.  Mahasiswa atau pelajar memerlukan motivasi belajar yang kuat agar dapat berhasil di perguruan tinggi atau sekolahnya.  Demikian pula seorang pekerja di tempat kerjanya.  Tanpa motivasi, belajar atau bekerja menjadi suatu beban, bukan hal yang menyenangkan.  Belajar atau bekerja tanpa motivasi juga akan menghasilkan kinerja yang kurang memuaskan, baik bagi kita sendiri maupun bagi guru/dosen atau atasan kita.
    Mempertahankan motivasi adalah suatu perjuangan.  Semangat belajar atau bekerja kita selalu diganggu oleh berbagai fikiran negative yang melemahkan semangat itu.  Kadang-kadang kita merasa cemat atau khawatir tentang kemampuan kita menyelesaikan tugas atau pekerjaan itu dengan baik, atau tentang masa depan yang kelihatan suram, atau masalah keluarga yang mengganggu konsentrasi kita.  Setiap orang mengalami hal itu.  Cuma yang membedakan antara mereka yang berhasil dan mereka yang tidak berhasil dalam hidupnya adalah kemampuan mereka untuk tetap termotivasi dan terus maju, walaupun menemui banyak hambatan.
    Tak ada solusi sederhana bagi ketiadaan motivasi.  Bahkan setelah kita dapat mengatasinya, masalah itu akan muncul kembali ketika kita gagal.  Kuncinya adalah memahami fikiran kita dan bagaimana fikiran kita itu mendorong perasaan kita.  Dengan mempelajari bagaimana memelihara fikiran-fikiran yang memotivasi kita, menetralisir fikiran-fikiran yang negative, dan memusatkan perhatian pada tugas yang sedang kita hadapi, kita akan dapat menarik diri dari slump sebelum dia mencapai puncaknya.
    Mengapa kita bisa kehilangan motivasi?
    Ada 3 alasan utama kita bisa kehilangan motivasi:
    1. Kurang percaya diri.  Kalau kita tidak yakin akan berhasil, biasanya kita tidak berusaha keras untuk mencobanya.
    2. Kurang fokus.  Kalau kita tidak tahu apa yang kita inginkan, biasanya kita tidak benar-benar ingin berhasil. 
    3. Kehilangan arah.  Kalau kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, biasanya kita tidak termotivasi untuk melakukannya.
    Kiat Untuk Mendorong Rasa Percaya Diri
    Faktor pertama yang dapat menghilangkan motivasi adalah kurangnya rasa percaya diri.  Biasanya ini terjadi karena kita lebih memusatkan perhatian pada apa yang kita inginkan (belum kita miliki) daripada apa yang telah kita miliki.  Akibatnya, fikiran kita menciptakan alasan mengapa kita tidak memilikinya.  Ini akan menciptakan fikiran-fikiran negative.  Kegagalan di masa lalu, pengalaman yang tidak mengenakkan, dan kelemahan pribadi mendominasi fikiran kita.  Kita menjadi iri dengan pesaing kita dan mulai mencari-cari alasan mengapa kita tidak berhasil.  Dalam keadaan seperti ini, kita cenderung mempunyai kesan yang buruk, berprasangka jelek pada orang lain, dan kehilangan rasa percaya diri.
    Cara untuk mengatasi pola fikiran seperti ini adalah dengan memusatkan perhatian pada rasa syukur.  Sediakan waktu untuk memusatkan perhatian pada hal-hal positif dalam hidup kita.  Secara mental, ingatlah semua kelebihan kita, keberhasilan-keberhasilan di masa lalu, dan keuntungan di masa kini.  Kita cenderung meremehkan kekuatan kita dan terus mengingat-ingat kegagalan kita.  Dengan berusaha merasa bersyukur, kita akan menyadari kemampuan dan keberhasilan kita.  Ini akan membangkitkan kembali rasa percaya diri kita dan membuat kita termotivasi untuk terus berusaha dengan bermodalkan keberhasilan kita saat ini.
    Mungkin akan kedengaran aneh bahwa mengulangi hal-hal yang sudah kita ketahui dapat meningkatkan cara berfikir kita, tapi hal itu memang benar-benar efektif.  Fikiran kita dapat mengubah gambaran kenyataan untuk memperkuat apa yang ingin dipercayainya.  Semakin negative kita berfikir, semakin banyak pula contoh yang akan ditemukan oleh fikiran kita untuk memperkuat keyakinan itu.  Kalau kita benar-benar yakin bahwa kita pantas untuk berhasil, maka fikiran kita pun akan menghasilkan berbagai cara untuk mencapainya.  Cara terbaik untuk mendatangkan keberhasilan kepada kita adalah dengan benar-benar ingin menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
    Mengembangkan Fokus Yang Nyata
    Faktor ke dua yang dapat menghilangkan motivasi adalah kehilangan fokus.  Kita biasanya lebih suka memusatkan perhatian pada tujuan yang kongkrit daripada sesuatu yang tidak kita sukai.  Biasanya kita berfikir berdasarkan rasa takut.  Kita takut menjadi miskin.  Kita takut kalau-kalau tidak ada orang yang akan menghormati kita.  Kita takut sendirian.  Cara berfikir seperti ini merugikan.  Alih-alih menghilangkan rasa takut, fikiran tersebut bahkan akan memperkuat rasa takut itu dan menguras motivasi kita.
    Kalau Anda terjebak dalam fikiran yang didasari rasa takut ini, maka langkah pertama yang dapat Anda lakukan adalah memusatkan energi Anda pada tujuan yang tergambar dengan baik.  Dengan menetapkan suatu tujuan, Anda secara otomatis menetapkan serangkaian tindakan.  Kalau Anda takut miskin, buatlah rencana untuk meningkatkan penghasilan Anda.  Rencana itu bisa berupa mengikuti kursus pelatihan untuk meningkatkan kemampuan, mencari pekerjaan yang gajinya lebih tinggi, atau menulis buku.  Kuncinya adalah bergerak dari keinginan yang tidak nyata ke tindakan yang kongkrit dan dapat diukur.
    Dengan memusatkan fikiran Anda pada tujuan yang positif dan bukan pada rasa takut yang tidak jelas, Anda menyuruh otak Anda untuk bekerja.  Dengan cepat otak Anda mulai membuat rencana untuk mencapai keberhasilan.  Alih-alih mengkhawatirkan masa depan, Anda mulai berbuat sesuatu untuk mempersiapkan masa depan itu.  Ini adalah langkah pertama untuk memotivasi diri Anda sendiri untuk mengambil tindakan.  Kalau Anda tahu apa yang Anda inginkan, Anda akan termotivasi untuk mengambil tindakan.
    Menetapkan Arab
    Langkah ke tiga dalam memotivasi diri ini adalah penetapan arah.  Kalau fokus berarti mempunyai tujuan akhir, maka arah berarti mempunyai strategi hari-demi-hari untuk mencapai tujuan tersebut.  Ketiadaan arah dapat membunuh motivasi karena, tanpa adanya tindakan berikutnya yang jelas, kita akan mengalah pada keinginan untuk menunda pekerjaan.  
    Kunci untuk menemukan arah adalah mengenali kegiatan-kegiatan yang mengarah pada keberhasilan.  Untuk setiap tujuan itu ada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat bagi pencapaian tujuan.  Buatlah daftar semua kegiatan Anda dan aturlah kegiatan-kegiatan itu berdasarkan hasilnya.  Kemudian buatlah rencana tindakan yang difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan hasil besar.
    Memonitor penyelesaian tugas-tugas Anda yang paling penting akan mengarahkan energi Anda ke arah keberhasilan.  Tanpa adanya monitoring yang teratur, mudah sekali kita menghabiskan waktu untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan yang kurang penting.
    Apabila motivasi kita mulai menurun, itu pertanda kita sedang kehilangan arah.  Kita dapat memperoleh kembali arah yang hilang itu dengan membuat rencana yang berisi dua tindakan positif.  Yang pertama berupa tugas kecil yang telah kita ingin kerjakan, sedangkan yang ke dua berupa tujuan jangka panjang.  Segera kerjakan tugas kecil itu.  Ini akan menciptakan momentum yang positif.  Sesudah itu, lakukan langkah pertama untuk mencapai tujuan jangka panjang.  Dengan melakukan hal ini secara berkala, kita akan dapat keluar dari suasana motivasi yang menurun, menciptakan penguatan yang positif, dan menggerakkan kembali rencana jangka panjang kita.
    Tak bisa dielakkan bahwa Anda akan menemui masa-masa di mana Anda merasa kehabisan tenaga, bernasib sial, dan bahkan kadang-kadang merasa gagal.  Kalau Anda tidak mendisiplinkan fikiran Anda, gelombang-gelombang kecil ini dapat menjadi monster mental yang dahsyat.  Dengan selalu mewaspadai tiga pembunuh motivasi di atas, insya Allah Anda akan dapat mempertahankan motivasi Anda dan maju terus ke arah keberhasilan Anda. Wallahu a’lam bissawab.