15 Okt 2012

Memperhatikan Pendidikan Anak (2)

By: rnppsalatiga On: Senin, Oktober 15, 2012
  • Berbagi


  • Saat maut menjemput, kematian tak bisa lagi ditunda. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam masih tetap memperhatikan keadaan anak-anaknya. Apa yang beliau tatap perihal keadaan anak-anaknya? Bukan masalah harta yang ia bicarakan dengan anak-anaknya. Bukan pula masalah kekhawatiran bahwa anaknya tak bisa makan kelak. Bukan urusan keduniaan yang ia perbincangkan kepada anak-anaknya. Tetapi, sepeninggalnya nanti, tumbuh kekhawatiran anak keturunannya menjadi anak-anak yang tiada lagi bertauhid. Dialog indah, penuh makna dan sarat ibrah (pelajaran) bagi orang-orang berakal, bisa ditemukan dalam Alquran, Al-Baqarah:133;
    أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
    “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyembah ilah-mu dan ilah leluhurmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) ilah Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-NYA.”
    Lihatlah, sebagai orang tua Nabi Ya’qub sedemikian tajam memperhatikan pendidikan tauhid bagi anak-anaknya. Tauhid adalah fitrah yang melekat pada diri anak. Tauhid inilah yang semestinya senantiasa dikawal oleh para orang tua agar senantiasa terpatri kukuh dalam diri anak, dan tentu saja dalam diri orang tua sendiri.
    Fitrah tauhid ini pernah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    “Setiap anak yang lahir dalam keadaan membawa fitrah (tauhid). Maka, kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api).” (HR. Al-Bukhari-Muslim hadits dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
    Sungguh, barangsiapa yang menelantarkan pendidikan tauhid kepada anak-anaknya, enggan memberi bimbingan tauhid, dan menjaga kemurnian tauhid pada sang anak, berarti ia telah berbuat jahat yang teramat dahsyat. Sebab, salah satu kerusakan pada diri anak, adalah datang dari pihak orang tua. Para orang tua tak memiliki kepedulian terhadap pendidikan agama anak-anaknya. Para orang tua tak mau meluangkan waktunya untuk menanamkan sunah Rasul-NYA kepada buah hatinya.
    Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan agar menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Firman Allah :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-NYA kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim:6)
    Saat memberi penjelasan terhadap ayat di atas, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebutkan, bahwa yang dimaksud “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” yaitu ajarilah diri kalian dan keluarga kalian al-khair (kebaikan). (Diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadraknya 4/494).
    Karenanya, sudah tiba masanya bagi para orang tua untuk senantiasa memperhatikan ke mana arah pendidikan anak-anaknya. Janganlah lantas berlepas diri dari memantau arah pendidikan anak. Sungguh, berapa banyak anak yang terjatuh dalam kesesatan akidah lantaran tidak terbimbing secara baik. Anak terjatuh pada kejelekan akidah lantaran orang tua salah menempatkan pendidikan anak dan salah dalam memilih guru pembimbing bagi anak-anaknya. Saat tumbuh, pada diri anak disemai ajaran akidah yang tidak benar. Sehingga, berapa banyak manusia yang kemudian terjatuh pada bentuk kesyirikan, menyembah kuburan, meyakini bintang-bintang (Virgo, Gemini dan sebagainya). Nas’alullaha assalamah wal’afiyah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridhai-NYA. Amin. Wallahu ‘a’lam.


    Memperhatikan Pendidikan Anak ( 1 )

    By: rnppsalatiga On: Senin, Oktober 15, 2012
  • Berbagi


  • Para nabi dan rasul yang Allah Ta’ala utus ke muka bumi ini selalu memberi perhatian kepada anak-anaknya. Kisah para nabi atau rasul beserta anak-anak mereka banyak diabadikan di dalam Alqur’an. Kisah mereka memberi gambaran, betapa sangat urgen memperhatikan keadaan anak, terlebih masalah pendidikan diniyah (agama).
    Nabi Nuh ‘alaihissalam tetap menasihati anaknya untuk tidak bergaul dengan kelompok masyarakat yang kufur kepada Allah Ta’ala. Saat kondisi sedemikian kritis, Nabi Nuh ‘alaihissalam menyeru anaknya untuk tetap bersamanya menaiki perahu. Kala itu, air bah yang begitu dahsyat akan menenggelamkan manusia-manusia yang kufur kepada Al-Khaliqurrahman, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ
    “…Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud:42)
    Nabi Nuh ‘alaihissalam menasihati anaknya untuk berlepas diri dari orang-orang kafir.
    Nilai pendidikan yang bisa dipetik dari kisah di atas, sungguh menanamkan semangat al-wala’ wal-bara’ terasa amat penting. Apalagi ditengah kehidupan manusia sekarang yang mengangkat tinggi paham pluralisme sebagai paham yang dijejalkan ke dalam kehidupan kaum muslimin. Melalui paham pluralisme, manusia dihasung untuk membenarkan semua paham agama. Padahal agama yang benar dan diridhai disisi Allah hanyalah Islam.
    Bagaimana mungkin seorang anak akan memiliki kepribadian seorang muslim yang benar, jika apa yang dilihat dalam keseharian adalah perilaku kaum kafir. Bagaimana mungkin kebiasaan-kebiasaan yang islamis akan tertanam pada diri anak, jika orang-orang yang berada disekitarnya adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-NYA.
    Contoh yang sederhana, perilaku makan dan minum dalam Islam telah diatur sedemikian rupa. Islam mengajarkan etika terkait makan dan minum. Seperti, makan-minum hendaknya dengan tangan kanan, membaca bismillah saat memulai makan-minum dan tata aturan makan-minum lainnya. Apa yang akan terjadi pada diri anak manakala dalam kehidupan sehari-hari yang dilihat dan didengar sang anak adalah kebiasaan-kebiasaan yang tak mengajarkan itu semua? Apakah anak akan berperilaku islamis terkait perilaku makan-minumnya?
    Tentu, nilai-nilai islamis itu tak akan bisa diserap sang anak. Bahkan, sang anak akan menyerap nilai-nilai kekufuran manakala dirinya hidup bersama orang-orang kafir. Dia tak mendapat lingkungan yang mendukung bagi tumbuh-kembang kepribadiannya kearah yang diridhai-NYA.
    Maka, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pendidikan anak sangat dituntut. Sungguh, sangat membahayakan berinteraksi dengan kaum kafir, manakala tidak memiliki benteng yang kokoh. Karenanya, Islam mengatur sedemikian rupa muamalah dengan kaum kafir. Wallahu ‘a’lam.

    Manfaat Tidur Dengan Posisi Miring Ke Sebelah Kanan

    By: rnppsalatiga On: Senin, Oktober 15, 2012
  • Berbagi


  • Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan”

    “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

    1. Mengistirahatkan otak sebelah kiri
    Secara anatomis, otak manusia terbagi menjadi 2 bagian kanan dan kiri. Bagian kanan adalah otak yang mempersarafi organ tubuh sebelah kiri dan sebaliknya. Umumnya umat muslim menggunakan organ tubuh bagian kanan sebagai anggota tubuh yang dominan dalam beraktifitas seperti makan, memegang dan lainnya. Dengan tidur pada posisi sebelah kanan, maka otak bagian kiri yang mempersarafi segala aktiftas organ tubuh bagian kanan akan terhindar dari bahaya yang timbul akibat sirkulasi yang melambat saat tidur/diam. Bahaya tersebut meliputi pengendapan bekuan darah, lemak , asam sisa oksidasi, dan peningkatan kecepatan atherosclerosis atau penyempitan pembuluh darah. Sehingga jika seseorang beresiko terkena stroke, maka yang beresiko adalah otak bagian kanan, dengan akibat kelumpuhan pada sebelah kiri (bagian yang tidak dominan).

    2. Mengurangi beban jantung
    Posisi tidur kesebelah kanan yang rata memungkinkan cairan tubuh ( darah ) terdistribusi merata dan terkonsentrasi di sebelah kanan ( bawah ). Hal ini akan menyebabkan beban aliran darah yang masuk dan keluar jantung lebih rendah. Dampak posisi ini adalah denyut jantung menjadi lebih lambat, tekanan darah juga akan menurun. Kondisi ini akan membantu kualitas tidur.

    3. Mengistirahatkan lambung
    Lambung manusia berbentuk seperti tabung berbentuk koma dengan ujung katup keluaran menuju usus menghadap kearah kanan bawah. Jika seorang tidur kesebelah kiri maka proses pengeluaran chime ( makanan yang telah dicerna oleh lambung dan bercampur asam lambung ) akan sedikit terganggu, hal ini akan memperlambat proses pengosongan lambung. Hambatan ini pada akhirnya akan meningkatkan akumulasi asam yang akan menyebabkan erosi dinding lambung. Posisi ini juga akan menyebabkan cairan usus yang bersifat basa bias masuk balik menuju lambung dengan akibat erosi dinding lambung dekat pylorus.

    4. Meningkatkan pengosongan kandung empedu, pankreas
    Adanya aliran chime yang lancar akan menyebabkan keluaran cairan empedu juga meningkat, hal ini akan mencegah pembentukan batu kandung empedu. Keluaran getah pankreas juga akan meningkat dengan posisi miring ke kanan.

    5. Meningkatkan waktu penyerapan zat gizi.
    Saat tidur pergerakan usus menigkat. Dengan posisi sebelah kanan, maka perjalanan makan yang telah tercerna dan siap di serap akan menjadi lebih lama, hal ini disebabkan posisi usus halus hingga usus besar ada dibawah. Waktu yang lama selama tidur memungkinkan penyerapan bisa optimal.

    6. Merangsang buang air besar (BAB)
    Dengan tidur miring ke sebelah kanan , proses pengisian usus besar sigmoid ( sebelum anus ) akan lebih cepat penuh, jika sudah penuh akan merangsang gerak usus besar diikuti relaksasi dari otot anus sehingga mudah buang air Besar.

    7. Mengisitirahatkan kaki kiri
    Pada orang dengan pergerakan kanan, secara ergonomis guna menyeimbangkan posisi saat beraktifitas cenderung menggunakan kaki kiri sebagai pusat pembebanan. Sehingga kaki kiri biasanya cenderung lebih merasa pegal dari kanan, apalgi kaki posisi paling bawah dimana aliran darah balik cenderung lebih lambat. Jika tidur miring kanan , maka pengosongan vena kaki kiri akan lebih cepat sehingga rasa pegal lebih cepat hilang. Dari uraian diatas tampak banyak manfaat tidur dengan posisi miring. Mudah-mudahan uraian tersebut dapat membawa manfaat bagi umat dalam mengamalkan salah satu sunnah nabi.