Mendoakan sang anak
termasuk cara mendidik anak yang dituntunkan Islam. Saat orang tua mendoakan
sang anak, saat itulah segenap perhatian tertuju pada sang buah hati. Oleh
karena itu, agama mengingatkan agar orang tua tidak mengucapkan doa kejelekan
kepada anaknya. Sebab, bisa saja doa kejelekan itu terkabul. Sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal itu, sebagaimana disebutkan
dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (yang terjemahannya):
“Tiga doa yang tidak
ragu lagi dikabulkan, yaitu doa (kejelekan) orang tua terhadap anaknya, doa
orang yang tengah safar (bepergian) dan doa orang yang tengah dizalimi.” (HR.
Abu Dawud)
Doa kejelekan yang
dipanjatkan orang tua bisa memberi pengaruh terhadap keadaan anak. Sebagai
manusia, terkadang kejengkelan hinggap dalam jiwa. Namun, berusahalah agar
kejengkelan tersebut tidak membuahkan kata-kata yang jelek yang ditujukan
kepada anak. Sikap jengkel adalah manusiawi. Namun manakala kejengkelan itu
menjadi sebab terlontarnya sumpah serapah, umpatan dan caci maki, maka ini
menjadi sesuatu yang tak baik. Lapangkanlah dada, besarkanlah jiwa, dan
pancangkanlah kesabaran dalam diri.
“Janganlah kalian
ucapkan kata (doa), kecuali yang baik. Karena sesungguhnya para malaikat
mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim dari Ummul-mukminin Ummu
Salamah radhiyallahu ‘anha)
Tak selamanya perilaku
anak menyenangkan orang tua. Dari sekian sikap sang anak, ada saja diantaranya
yang menjengkelkan orang tua. Keadaan ini semakin diperparah dengan keadaan
sikap mental orang tua yang mudah terpancing situasi. Keadaannya bisa semakin
runyam manakala orang tua dalam keadaan psikis tertekan (stress), lelah, penat
dan tengah banyak menghadapi banyak masalah. Dalam kondisi semacam ini tingkat
pengendalian orang tua menjadi melemah. Mudah marah, mengeluarkan kata-kata tak
baik dan tindakan-tindakan tak terukur kerap muncul. Anak pun menjadi sasaran.
Pelampiasan dihempaskan kepada sang anak akibat dari suasana hati, pikiran dan
masalah yang mengakumulasi. Nas’alulllaha as-salaamah (Kita memohon kepada
Allah keselamatan dari hal itu).
Menyadari betapa sebagai
manusia banyak dihinggapi kelemahan, maka doa menjadi kekuatan dahsyat bagi
manusia beriman. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberi keteladanan dalam mendoakan
sang buah hati. Teladan indah itu diabadikan dalam firman Allah Ta’ala.
“Dan (ingatlah), ketika
Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman,
dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.”
(Al-Baqarah:35)
Doakanlah anak. Kala
sepertiga malam terakhir, saat banyak manusia lelap tertidur, hening, hati dan
pikiran pun masih terasa bening, panjatkanlah doa kebaikan bagi sang buah hati.
Mohonkan kepada Yang Mahatahu dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Doakan ia
menjadi anak yang shalih. Anak nan penuh bakti kepada kedua orang tuanya. Anak
yang senantiasa memberi kebaikan kepada segenap manusia. Doakan ia menjadi
pengamal dan pengawal dakwah tauhid. Doakan ia menjadi orang yang senantiasa
taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mencintai dan menghidupkan sunnah-sunnah
Rasul-Nya. Doakan ia kala sujud dan kala waktu-waktu dan (di) tempat-tempat
dikabulkannya doa. Sesungguhnya Allah Maha mendengar doa hamba-NYa.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ
الصَّالِحِينَ
“Ya Rabb-ku,
anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.”
(Ash-Shaffaat:100)
0 komentar:
Posting Komentar