25 Agu 2012

Tata Cara Puasa Syawal

By: rnppsalatiga On: Sabtu, Agustus 25, 2012
  • Berbagi

  • Tata Cara Puasa Syawal

    puasa khusus 8 dzulhijjah
    Pertanyaan:
    Ustadz, apakah puasa Syawal harus dilakukan berturut-turut enam hari atau boleh terputus-putus asalkan masih tetap di bulan Syawal? Jazakallahu khairan.

    Jawaban:
    Ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.
    Pendapat pertama, dianjurkan untuk menjalankan puasa Syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan Ibnul Mubarak. Pendapat ini didasari sebuah hadis, namun hadisnya lemah.
    Pendapat kedua, tidak ada beda dalam keutamaan, antara dilakukan secara berturut-turut dengan dilakukan secara terpisah-pisah. Ini adalah pendapat Imam Waki’ dan Imam Ahmad.
    Pendapat ketiga, tidak boleh melaksanakan puasa persis setelah Idul Fitri karena itu adalah hari makan dan minum. Namun, sebaiknya puasanya dilakukan sekitar tengah bulan. Ini adalah pendapat Ma’mar, Abdurrazaq, dan diriwayatkan dari Atha’. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah pendapat yang aneh.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 384–385)
    Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa Syawal tanpa berurutan. Keutamaannya sama dengan puasa Syawal secara terpisah. Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang puasa Syawal, apakah harus berurutan?
    Beliau menjelaskan, “Puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunah yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh dikerjakan secara berurutan atau terpisah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keterangan secara umum terkait pelaksanaan puasa Syawal, dan beliau tidak menjelaskan apakah berurutan ataukah terpisah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal ….‘ (Hadis riwayat Muslim, dalam Shahih-nya)
    Wa billahit taufiiq ….” (Majmu’ Fatwa wa Maqalat Ibni Baz, jilid 15, hlm. 391)
    Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

    ABOUT THE AUTHOR

    Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Mahasiswa Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina websitePengusahaMuslim.comKonsultasiSyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian di beberapa masjid di sekitar kampus UGM.


    24 Agu 2012

    Kemanakah Larinya Uang Umat?

    By: rnppsalatiga On: Jumat, Agustus 24, 2012
  • Berbagi

  • Kemanakah Larinya Uang Umat?

    uang lebaran
    Perayaan Idul Firi memang telah berlalu, namun kenangan dan hikmah dari perayaan tersebut pasti masih kental dalam ingatan anda. Rasa bahagia dan damai yang menyelimuti anda ketika menyantap hidangan ‘Ied di tengah-tengah canda dan keakraban keluarga pastilah tak pernah dapat anda lupakan.

    Wajar bila momentum tahunan ini selalu anda nanti-nantikan, dan dengan sekuat tenaga anda mendapatkannya. Biaya yang mahal, jauhnya perjalanan dan lelahnya menghadapi kemacetan jalan, dalam sekejap semuanya sirna bila anda telah merasakan kehangatan Idul Fitri.
    Hari besar ini tidak pernah surut mengobarkan kerinduan dalam batin anda kepada kampung halaman dan kedamaian bercengkrama dengan keluarga. Idul Fitri begitu istimewa dalam kehidupan umat Islam, karena terbukti mampu mengantarkan anda kepada memori kehidupan keluarga semasa anda kecil, namun dalam nuansa dan keadaan yang berbeda.
    Setelah anda berhasil mewujudkan sebagian cita-cita dan merasakan indahnya sukses dalam urusan dunia, kenangan indah semasa kanak-kanak kembali bangkit. Perasaan ini begitu istimewa bagi anda, sehingga rela berkorban dengan apapun untuk dapat merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman.

    Pengorbanan Demi Kenangan Indah Idul Fitri.

    Indahnya nuansa berlebaran di tangah-tengah handau taulan tercinta di kampung halaman, terlanjur menguasai perasaan umat Islam. Akibatnya mereka tidak pernah menyoal berapapun biaya yang harus mereka tanggung dan seberat apapun perjuangan yang harus mereka lalui.
    Pada suatu hari saya membaca sebuah berita, bahwa untuk menyambut perayaan Idul Fitri tahun ini 1432 H, BI menyiapkan dana tunai sebesar Rp 61,36 triliun. Akan tetapi pada kenyataannya, prediksi BI ini tidak tepat, bahkan jauh dari kenyataan yang terjadi di lapangan. Dalam kurun waktu sekitar 4 minggu ini, ternyata dana tunai yang diserap oleh masyarakat, terutama umat Islam mencapai angka yang fantastis. Tahukah anda berapa jumlah yang diserap oleh umat Islam dalam waktu yang sangat singkat tersebut?
    Deputi Direktur Pengedaran Uang BI, Adnan Djuanda menjelaskan bahwa hingga H – 5 permintaan umat Islam terhadap uang receh telah mencapai hitungan Rp 77 triliun. Angka ini jauh melebihi permintaan umat Islam pada periode sebelumnya yang mencapai Rp 54,78 triliun. Dengan demikian permintaan pecahan uang kecil yang mencerminkan nilai belanja umat Islam mengalami peningkatan sebesar 12%.

    KEMANA UANG UMAT ITU MENGALIR?

    Angka di atas, mungkin tidak pernah anda bayangkan sebelumnya, namun itulah kenyataan. Pada saat yang sama, mungkin anda akan terheran mendapatkan fakta yang selama ini dilupakan oleh banyak orang. Kemampuan membelanjakan uang begitu besar dan dalam tempo waktu yang begitu pendek, adalah bukti nyata bahwa umat Islam sejatinya kaya.
    Bagaimana tidak kaya, angka di atas yaitu Rp 77 triliun hanyalah angka kasar, karena itu sebatas uang yang secara resmi dicairkan oleh BI. Adapun angka pastinya, mencakup uang yang oleh masyarakat disimpan di bawah bantal, atau brangkas pribadi, dan lainnya tidak ada yang tahu jumlahnya.
    Andai dana begitu besar ini diinvestasikan pada proyek yang produktif, tentu dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang besar. Andai umat Islam menyisihkan sebagian dana yang dibelanjakan untuk perayaan Idul Fitri, guna menyantuni fakir miskin, tentu banyak yang dapat terentaskan dari kemiskinan.
    Akan tetapi sungguh disayangkan, dana tersebut umumnya dibelanjakan untuk kebutuhan-kebutuhan yang bersifat konsumtif, sehingga tidak banyak memberikan nilai positif bagi kesejahteraan umat. Hanya segelintir orang, yaitu para pedagang yang dapat menikmati derasnya aliran dana umat. Bahkan ironisnya, banyak dari dana itu mengalir kantong pedagang dari umat lain.
    Coba anda kembali mengingat apa yang kemarin anda lakukan ketika merayakan Idul Fitri. Berapa pasang baju baru yang anda beli, sepatu atau sandal, dan berapa jenis makanan yang anda siapkan. Pada saat itu terkesan anda seakan kekurangan baju yang layak pakai, dan seakan Idul Fitri anda tidak sah bila tidak menyediakan hidangan dan kue yang beraneka ragam.
    Tidakkah anda ingat sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
    )كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا، فِى غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيلَةٍ(
    “Makan, minum, berpakaian dan bersedekahlah, tanpa ada sikap berlebih-lebihan dan kesombongan”. (Bukhari)
    Lebih ironis lagi, perayaan Idul Fitri telah beralih fungsi dari perayaaan yang bernuansa ibadah dan syukur atas nikmat terlaksananya ibadah puasa, menjadi ajang “pamer”. Pamer baju baru, kue, perhiasan, kendaraan baru dan lain sebagainya.
    Wajar bila nilai-nilai keimanan dan syukur kepada Allah Azza wa Jalla pada hari raya dari tahun ke tahun semakin lutur. Terlebih kesadaran tentang nilai-nilai ubudiyah kepada Allah Azza wa Jalla. Nilai Ubudiyah yang terpancar pada kepatuhan anda untuk menahan diri dari makan dan minum selama satu bulan penuh, lalu pada hari raya anda dilarang dari berpuasa. Sebulan ketaatan anda diwujudkan dalam menahan diri dari makan dan minum, dan pada hari raya sebaliknya, anda beribadah dengan makan dan minum.
    Ubudiyah kepada Allah bukan terletak pada amaliyah lahir semata, namun lebih pada kepatuhan anda kepada segala perintah dan larangan, apapun bentuknya. Karena itu, ubudiyah bisa berupa makan dan minum, sebagaimana dapat terwujud dalam bentuk berpuasa.
    Namun apa boleh dikata, bila ternyata umat Islam lebih menekankan pada penampilan lahir. Seakan Idul Fitri hanya sekedar bersenang-senang denganpakaian baru, dan hidangan enak.
    Pembaca yang budiman, Renungkan penuturan Ummu ‘Athiyah, semoga anda dapat membandingkan perayaan Idul Fitri Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dengan perayaan anda.
    قالت يا رسول الله على إحدانا بأس إذا لم يكن لها جلبات أن لاتخرج ؟ فقال ( لتلبسها صاحبيها من جلبابها فليشهدن الخير ودعوة المؤمنين )
    “Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami berdosa bila kami tidak memiliki jilbab sehingga ia tidak turut menghadiri sholat Idul Fitri? Maka Rasulullah menjawab: Hendaknya temannya meminjamkan jilbab kepadanya, sehingga ia turut serta mendapatkan kebaikan dan tercakup oleh doa-doa umat Islam.”(Bukhari)
    Demikianlah, mereka merayakan Idul Fitri, nilai-nilai ibadah lebih mereka tekankah, dari pada sebatas penampilan. Hari raya telah tiba, namun masih ada diantara sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang belum mempunyai jilbab yang dapat digunakan menutup auratnya ketika keluar rumah.
    Walau tidak memiliki jilbab, mereka tidak putus asa untuk turut serta menyemarakkan ibadah Idul Fitri sebagai upaya mendapatkan berkah kepatuhan kepada Allah Azza wa Jallah.
    Andai umat Islam di zaman sekarang kembali menekankan pada nilai-nilai ibadahdibanding penampilan, niscaya potensi dan kekayaan mereka tidak dihambur-hamburkan seperti saat ini.
    Mari kita perhatikan kata pepatah berikut
    ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد
    “Bukanlah ‘ied itu milik orang yang berbaju baru, namun ‘ied adalah milik orang yang ketakwaannya maju nan menderu.”

    Penutup.

    Kami berharap paparan sederhana ini menggugah iman anda, sehingga anda tidak menghamburkan uang hasil jerih payah anda dalam hal-hal yang kurang bernilai. Semoga tulisan ini mengingatkan anda bahwa hasil kucuran keringat anda selama ini, alangkah indahnya bila anda titipkan di sisi Allah. Betapa banyak pintu-pintusurga yang terbuka di sekitar anda, namun betapa sedikit yang berhasil anda raih dengan harta kekayaan anda.
    Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab.
    Oleh: Ustadz. DR Arifin Badri, MA
    Artikel di atas diterbitkan di majalah Pengusaha Muslim edisi 22. pada edisi ini, majalah Pengusaha Muslim secara khusus membahas tentang halal-haram bisnis waralaba (Franchise) dan bisnis ritel.
    Bagi Anda yang berminat mendapatkan edisi cetak, anda bisa menghubungihttp://majalah.pengusahamuslim.com/
    Untuk versi ebook, bisa anda dapatkan di: http://shop.pengusahamuslim.com/

    ABOUT THE AUTHOR


    Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri,M.A. Beliau adalah Doktor lulusan Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Pendidikan S1, S2, dan S3 beliau diselesaikan di jurusan yang sama, yaitu jurusan Fikih, Fakultas Syariah. Beliau adalah pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI), pengasuh milis Syariah PM-Fatwamajalah Pengusaha Muslim, dan website PengusahaMuslim.com, serta dewan pembina KonsultasiSyariah.com


    http://www.konsultasisyariah.com/kemanakah-larinya-uang-umat/#ixzz24SvxKZ3w


    Read more about RAMADHAN by www.konsultasisyariah.com

    Kisah Nabi Yunus ‘Alaihissalam

    By: rnppsalatiga On: Jumat, Agustus 24, 2012
  • Berbagi

  • Kisah Nabi Yunus ‘Alaihissalam

    August 24, 2012  //  Kisah Nabi dan RasulKisah Nyata  //  No comments
    kisah nabi yunus
    Di daerah Mosul, Irak, terdapat sebuah kampung bernama Ninawa yang penduduknya berpaling dari jalan Allah yang lurus dan malah menyembah patung dan berhala. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin memberikan petunjuk kepada mereka dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus, maka Dia mengutus Nabi Yunus ‘alaihissalam untuk mengajak mereka beriman dan meninggalkan sesembahan selain Allah ‘Azza wa Jalla.

    Akan tetapi mereka menolak beriman kepada Allah dan tetap memilih menyembah patung dan berhala. Mereka lebih memilih kekafiran dan kesesatan daripada keimanan dan petunjuk, mereka mendustakan Nabi Yunus ‘alaihissalam, mengolok-olok dan menghinanya. Maka Nabi Yunus pun marah kepada kaumnya dan tidak berharap lagi terhadap keimanan mereka.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mewahyukan kepada Yunus untuk memberitahukan kaumnya, bahwa Allah akan mengadzab mereka karena sikap mereka itu setelah berlalu tiga hari. Lalu Nabi Yunus menyampaikan perihal adzab itu kepada kaumnya dan mengancam kaumnya dengan adzab Allah, kemudian ia pergi meninggalkan mereka.
    Ketika itu, kaum Yunus telah mengetahui, bahwa Nabi Yunus telah pergi meninggalkan mereka sehingga mereka yakin adzab akan turun dan bahwa Yunus adalah seorang nabi, maka mereka segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kembali kepada-Nya, dan menyesali sikap mereka.
    Ketika itu, kaum lelaki, wanita, dan anak-anak menangis karena takut adzab menimpa mereka, dan mereka berdoa dengan suara keras kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar adzab itu diangkat dari mereka. Saat Allah melihat jujurnya taubat mereka, maka Dia menghilangkan adzab itu dari mereka serta menjauhkannya. Allah Ta’ala berfirman,
    “Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)
    Setelah peristiwa itu, Yunus tetap meninggalkan kampung kaumnya karena marah padahal Allah belum mengizinkannya, maka Yunus pergi ke tepi laut dan menaiki kapal. Pada saat Yunus berada di atas kapal, maka ombak laut menjadi dahsyat, angin menjadi kencang dan membuat kapal menjadi oleng hingga hampir saja tenggelam[1].
    Oleh ketika itu, kapal yang ditumpangi membawa barang-barang yang berat, lalu sebagiannya dilempar ke laut untuk meringankan beban. Tetapi ternyata, kapal itu tetap saja oleng hampir  tenggelam, maka para penumpangnya bermusyawarah untuk meringankan beban kapal dengan melempar seseorang ke laut, maka mereka melakukan undian dan ternyata undian itu jatuh kepada diri Yunus, tetapi mereka tidak mau jika Yunus harus terjun ke laut, maka undian pun diulangi lagi, dan ternyata jatuh kepada Yunus lagi, hingga undian itu dilakukan sebanyak tiga kali dan hasilnya tetap sama. Maka Yunus bangkit dan melepas bajunya, kemudian melempar dirinya ke laut.
    Pada saat yang bersamaan, Allah telah mengirimkan ikan besar kepadanya dan mengilhamkan kepadanya untuk menelan Yunus dengan tidak merobek dagingnya atau mematahkan tulangnya, maka ikan itu melakukannya. Ia menelan Nabi Yunus ke dalam perutnya tanpa mematahkan tulang dan merobek dagingnya, dan Yunus pun tinggal di perut ikan itu dalam beberapa waktu dan dibawa mengarungi lautan oleh ikan itu. Ketika Yunus mendengar ucapan tasbih dari kerikil di bawah laut, maka di kegelapan itu Yunus berdoa, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Yunus berada dalam tiga kegelapan; kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,
    “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”–Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa’: 87-88)
    Para ulama berselisih tentang berapa lama Nabi Yunus tinggal di dalam perut ikan. Menurut Qatadah, tiga hari. Menurut Abu Ja’far ash-Shaadiq, tujuh hari, sedangkan menurut Abu Malik, empat puluh hari. Mujahid berkata dari asy-Sya’bi, “Ia ditelan di waktu duha dan dimuntahkan di waktu sore.”
    Wallahu a’lam.
    Kemudian Allah memerintahkan ikan itu memuntahkan Yunus ke pinggir pantai, lalu Allah tumbuhkan di sana sebuah pohon sejenis labu yang memiliki daun yang lebat yang dapat menaungi Nabi Yunus dan menjaganya dari panas terik matahari. Allah Ta’ala berfirman,
    “Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.– Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. ash-Shaaffaat: 145-146)
    Ketika Yunus dimuntahkan dari perut ikan yang keadaannya seperti anak burung yang telanjang dan tidak berambut. Lalu Allah menumbuhkan pohon sejenis labu, dimana ia dapat berteduh dengannya dan makan darinya. Selanjutnya pohon itu kering, lalu Yunus menangis karena keringnya pohon itu. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Apakah kamu menangis karena pohon itu kering. Namun kamu tidak menangis karena seratus ribu orang atau lebih yang ingin engkau binasakan.”
    Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Yunus agar kembali kepada kaumnya untuk memberitahukan mereka, bahwa Allah Ta’ala telah menerima taubat mereka dan telah ridha kepada mereka. Maka Nabi Yunus ‘alaihissalam melaksanakan perintah itu, ia pergi mendatangi kaumnya dan memberitahukan kepada mereka wahyu yang diterimanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kaumnya pun telah beriman dan Allah memberikan berkah kepada harta dan anak-anak mereka, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya,
    “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.–Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. ash-Shaaffaat: 147-148)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Yunus ‘ailaihissalam dalam Alquran, Dia berfirman,
    “Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (QS. Al An’aam: 86)
    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji Nabi Yunus ‘alaihissalam dalam sabdanya,
    لاَ يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى
    Tidak layak bagi seorang hamba mengatakan, “Saya (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih baik daripada Yunus bin Mata.” (Muttafaq ‘alaih)
    Beliau mengucapkan demikian karena tawadhunya. Ada pula yang berpendapat, bahwa beliau mengucapkan demikian karena sebelumnya tidak mengetahui bahwa dirinya lebih utama di atas para nabi yang lain. Ada pula yang berpendapat, bahwa beliau mengucapkan demikian untuk menghindari adanya sikap orang bodoh yang merendahkan martabat Nabi Yunus karena kisah yang disebutkan dalam Alquran, wallahu a’lam.
    Dan tentang doa Nabi Yunus ‘alaihissalam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ
    “Doa Dzunnun (Nabi Yunus ‘alaihissalam) ketika di perut ikan adalah “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Sesungguhnya tidak seorang muslim pun yang berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah akan mengabulkan doanya.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
    Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
    Oleh: Marwan bin Musa
    Maraaji’:
    • Alquranul Karim
    • Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Abu Yahya Marwan)
    • Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
    • Shahih Qashashil Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy)
    • Maktabah Syaamilah
    • dll.