20 Okt 2012

Tanggung Jawab Penuntut Ilmu (2): Ikhlas dan Niat yang Baik

By: rnppsalatiga On: Sabtu, Oktober 20, 2012
  • Berbagi

  • Dia juga mempunyai tanggung jawab yang lain dari sisi keikhlasan kepada Allah subhanahu wata’ala, pengawasan-Nya terhadap dirinya dan menjadikan tujuannya adalah untuk mendapatkan ridha-Nya, menunaikan kewajiban, melepaskan tanggungan dan memberi manfaat kepada manusia. Juga, dia tidak bertujuan untuk mencari harta dan kehormatan dunia, karena hal tersebut adalah keadaan orang-orang munafiq atau para penjilat dunia yang semisal mereka.
    Dia juga tidak bertujuan untuk riya` (dilihat orang) dan sum’ah (didengarkan orang). Namun tujuannya hanyalah memberi manfaat kepada hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala, dan tentu yang paling pertama adalah mencari ridha Allah subhanahu wata’ala.
    Segala sesuatu yang akan dia ucapkan, fatwakan dan amalkan, hendaknya didasari oleh dalil. Hendaknya dia menghindari tasahul (meremehkan permasalahan), karena seorang penuntut ilmu diikuti oleh umat dalam perbuatan dan amalannya.
    Apabila dia adalah seorang pengajar, maka murid-muridnya akan mencontohnya. Apabila dia adalah seorang ahli fatwa, maka manusia akan mengambil fatwa-fatwanya. Begitu pula apabila dia adalah seorang dai. Oleh karena itu, dia harus berhati-hati, terlebih lagi apabila dia adalah seorang hakim maka tanggung jawabnya akan lebih besar.
    Sehingga seorang penuntut ilmu wajib untuk mempunyai sikap yang diridhai oleh Rabb-Nya yaitu ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala, jujur dalam mencari ridha-Nya, bersemangat tanpa pernah berputus asa dalam usahanya untuk mengetahui dalil-dalil syar’i dan menelitinya, sehingga dia berdiri di atas dalil.
    Dengan demikian, dunia yang ada di depannya akan terasa longgar. Sehingga ketika dia berfatwa, berdakwah kepada Allah subhanahu wata’ala, mengajarkan ilmu kepada manusia, memerintahkan mereka kepada perkara yang baik, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, semuanya dilakukan berlandaskan ilmu. sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,
    “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh.” (Yusuf: 108)
    Dan firman-Nya: البَصِيْرَةُ (bashiroh), ditafsirkan oleh para ulama dengan ilmu. (*)
    Sumber: (Ada Tanggung Jawab di Pundakmu, Asy Syaikh Ibn Baaz, penerbit Al Husna Jogjakarta)

    Tanggung Jawab Penuntut Ilmu (1): Mempersiapkan diri dan Mempelajari Ilmu Agama

    By: rnppsalatiga On: Sabtu, Oktober 20, 2012
  • Berbagi

  • Dalam permasalahan ini, seorang penuntut ilmu mempunyai tanggung jawab dari sisi persiapan dirinya. Yaitu mempersiapkan dirinya untuk mengajar dan berdakwah, menunaikan kewajiban dan berkonsentrasi terhadap ilmu, mempelajari ilmu agama, muraja’ah (mengulang kembali) dalil-dalil syar’i dan mencurahkan perhatian terhadapnya.
    Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu sangat membutuhkan perbekalan yang besar berupa dalil-dalil syar’i, mengetahui pendapat para ulama dan perselisihan yang terjadi di antara mereka, mengetahui pendapat yang terkuat pada permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan oleh mereka dengan dalil dari Al Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa taqlid (fanatik) terhadap pendapat syaikh ini atau syaikh itu. Karena seandainya hanya sekedar taqlid, maka semua orang mampu untuk melakukannya. Dan hal tersebut tidak teranggap sebagai ilmu.
    Al Imam Abu ‘Umar bin Abdulbarr –seorang imam yang masyhur, penulis kitab At-Tamhid dan lainnya– berkata,
    “Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang taqlid tidak dianggap sebagai seorang ulama.”
    Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu mempunyai tanggung jawab dan kewajiban yang besar. Yaitu memberikan perhatian kepada dalil syar’i, bersungguh-sungguh untuk mengetahui hujjah-hujjah berbagai permasalahan dan hukum-hukum yang berasal dari Al Qur`an dan As Sunnah serta dari kaidah-kaidah yang telah diterima oleh para ulama. Dan hendaknya dia berada di atas keterangan yang kuat dan hubungan yang kokoh dengan pendapat para ulama, karena pengetahuannya terhadap perkataan para ulama akan membantunya untuk memahami dalil-dalil, mengeluarkan hukum dan membedakan antara pendapat yang rajih (kuat) dan marjuh (lemah). (*)
    Sumber: Ada Tanggung Jawab di Pundakmu, Asy Syaikh Ibn Baaz, penerbit Al Husna Jogjakarta.

    KISAH KESETIAAN YANG MENAKJUBKAN

    By: rnppsalatiga On: Sabtu, Oktober 20, 2012
  • Berbagi


  • Seekor anjing yang terlantar dijalanan melihat seorang yang sedang berjalan lewat dihadapannya lalu anjing tersebut mengikutinya sampai dirumah orang itu. Anjing itu tidak mau berpisah dari orang tersebut sehingga akhirnya anjing itu ditampung dan dirawat dirumahnya dengan baik dan tulus.

    Setiap pagi ketika orang itu hendak pergi berangkat kerja anjing tersebut selalu ikut mengantarkannya sampai ke stasiun. Demikian pula setiap sore anjing tersebut selalu menjemputnya di stasiun yang sama.

    Sampai suatu ketika sebagaimana biasa ketika pagi sang anjing mengantarkan sang majikan menuju stasiun dan ternyata sang majikan tersebut setelah sampai di tempat kerjanya meninggal dunia karena ajalnya telah datang. Pada sore harinya seperti biasa sang anjing menjemput sang majikan ke stasiun dan ternyata sang majikan tidak datang karena telah meninggal dunia dan sang anjing tersebut tidak tahu kalau majikannya meninggal dunia di tempat kerjanya. Setelah lama ditunggu dan tidak juga muncul akhirnya anjing itu pulang.

    Ceritanya tidak hanya sampai disini saja, karena ternyata setiap sore anjing tersebut selalu menjemput sang majikan di stasiun dan pulang kembali setelah mendapati bahwa majikannya masih belum juga pulang. Anjing tersebut tidak putus asa dan berusaha untuk selalu menjemput majikannya setiap sore di stasiun. Hal ini dilakukan oleh sang anjing sampai SEPULUH TAHUN sebagai bukti kesetiaannya kepada sang majikan yang telah berbuat baik kepadanya sampai akhirnya anjing itupun meninggal dunia di stasiun tersebut ketika menjemput majikannya.

    SUBHANALLAH!!! Seekor anjing mengerti tentang arti kesetiaan kepada orang yang pernah berbuat baik kepadanya. Bagaimana dengan kita????

    [Kisah ini diceritakan oleh Al-Ustadz Fariq Gasim Anuz -Hafidhahullah di masjid An-Nur Jagalan-Saleyer Malang ketika mengisi kajian mulazamah ikhwan Senin 17 Dzul Qa'dah 1431 H / 25 Oktober 2010 M mulai pukul 5.30]