20 Okt 2012

Kasih Sayang Rasullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam terhadap Hewan

By: rnppsalatiga On: Sabtu, Oktober 20, 2012
  • Berbagi



  • http://ulamasunnah.files.wordpress.com/2011/05/animal-right-hak-asasi-hewa.jpg?w=500Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
    1. Dari Suhail bin Hanzhaliyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati unta yang kurus, lalu beliau bersabda,
    اِتَّقُوا اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَأَرْكَبُوْهَا صَالِحَةً ، وَكُلُوْهَا صَالِحَةً
    “Bertaqwalah kepada Allah dari unta ini, dan kendarailah dengan baik serta beri makan yang baik”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Arnauth).
    2. Dari ‘Abdullah dari bapaknya, beliau berkata, “Dahulu kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam safar, lalu beliau berpaling sebentar untuk suatu hajat, kami melihat Humarah (burung berwarna merah) bersama dua anaknya. Kami pun mengambil dua anak tersebut dan datanglah induknya dengan kebingungan (mengepak-epak sayapnya). Tatkala itu datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersabda,
    مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بولدها ؟ رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا
    “Siapa yang menyakiti burung ini? Kembalikan anaknya ini pada burung ini”.
    Dan ketika beliau melihat sekumpulan semut yang kami bakar sarangnya, beliau bersabda,
    مَنْ أَحْرَقَ هَذِهِ؟
    “Siapa yang telah membakar ini?”
    Kami menjawab, “Kami (yang telah membakarnya)”. Beliau bersabda,
    لاَ يَنْبَغِي أَنْ يُعذب بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ
    “Tidak sepantasnya mengadzab dengan api melainkan Rabbun Nar (yaitu Allah ta’ala)”. (HR. Ahmad dan selainnya dan dishahihkan oleh Al-Arnauth).
    3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memiringkan bejana untuk seekor kucing sehingga kucing tersebut bisa minum air darinya. Kemudian beliau berwudhu dengan sisanya. (HR. Ath-Thabrani dengan sanad shahih.)
    4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةِ ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ ، فََلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ
    “Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan (kebaikan) atas segala sesuatu, maka jika kalian membunuh, maka perbaguslah dalam membunuhnya, dan jika menyembelih, maka perbaguslah sembelihannya, dan hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sesembelihannya”. (HR. Muslim).
    5. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seseorang yang menginjakkan kakinya di atas lambung seekor kambing sambil menajamkan pisaunya dan diperlihatkan di depan mata kambing itu. Beliau bersabda,
    أَتُرِيْدُ أَنْ تميتها مَوْتَتَيْنِ ؟ هَلا حَدَّدْتَ شفرتَكَ قَبْلَ أَنْ تضجعَهَا
    “Apakah kamu ingin membunuhnya dengan dua kematian? Tidakkah kamu tajamkan pisaumu sebelum kamu merebahkannya?” (HR. Al-Hakim dan beliau berkata hadits ini shahih atas syarat shahih Al-Bukhari dan Muslim, dan disepakati pula oleh Adz-Dzahabi)
    6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ
    “Seorang wanita telah diazab karena mengurung seekor kucing sampai mati dan dia dimasukkan dalam neraka, karena dia tidak memberi makan dan minum ketika mengurungnya dan tidak pula dia melepaskannya sehingga bisa makan serangga”. (HR. Al Bukhari)
    (Diterjemahkan untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com dari Qutuf min Syamail Muhammadiyyah, karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)
    Naskah Arab:
    رحمة الرسول صلى الله عليه وسلم بالحيوان :
    1-
    وعن سهيل بن الحنظلية قال : مرّ رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ببعير قد لحق ظهره ببطنه ، فقال : (اتقوا الله في هذه البهائم المعجمة فأركبوها صالحة ، وكلوها صالحة) . “المعجمة : التي لا تنطق” .
    2-
    وعن عبدالله ، عن أبيه قال : كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر ، فانطلق لحاجته ، فرأينا (حُمرة) معها فرخان ، فأخذنا فرخيها ، فجاءت الحمرة ، فجعلت تُعرش ، فلما جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : من فجع هذه بولدها ؟ ردوا ولدها إليها ، ورأى قرية نمل قد أحرقناها ، فقـال : من أحرق هذه ؟ قلنا : نحن ، قال : لا ينبغي أن يُذب بالنار إلا رب النار.
    (
    الحمرة : طائر يشبه العصفور) ، ( تُعرش : ترفرف) .
    3
    - كان صلى الله عليه وسلم ، يُصغي للهرة الإناء ، فتشرب ثم يتوضأ ، بفضلها ، (يصغي ، يميل) .
    4-
    وقال صلى الله عليه وسلم : ( إن الله كتب الإحسان على كل شئ ، فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة ، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة ، وليحد أحدكم شفرته ، وليرح ذبيحته) .
    5-
    وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال : مرّ رسول الله صلى الله عليه وسلم على رجل واضع رجله على صفحة شاة وهو يحد شفرته ، وهي تلحظ إليه ببصرها ، فقال : أتريد أن تميتها موتتين ؟ هلا حددت شفرتك قبل أن تضجعها ؟ (تلحظ : تنظر) .
    6-
    وقال صلى الله عليه وسلم : ( عُذبت امرأة في هرة سجنتها حتى ماتت ، فدخلت فيها النار ، لا هي أطعمتها وسقتها إذ حبستها ، ولا هي تركتها تأكل خشاش الأرض) . ” خشاش الأرض : حشراتها.

    15 Okt 2012

    Wasiat Luqman Al Hakim kepada anaknya (1)

    By: rnppsalatiga On: Senin, Oktober 15, 2012
  • Berbagi


  • Allah berfirman :
    وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
    “dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “ hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar benar kezaliman yang besar.” [Luqman :13]
    Ini adalah wasiat yang bermanfaat yang telah Allah kisahkan tentang luqman Al Hakim.
    1.
    وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
    “dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “ hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar benar kezaliman yang besar.” [Luqman :13]
    Jauhilah kesyirikan dalam peribadahan kepada Allah, seperti berdo’a kepada orang – orang yang telah mati atau orang – orang yang tidak berada di hadapannya. Rasulullah bersabda :
    “doa itu adalah ibadah.” [Diriwayatkan oleh At Tirmidzi, ia berkata : Hasan Shahih].
    Dan ketika itu turun firman Allah  Ta’ala :
    الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
    ” Orang – orang yang beriman dan tidak mencampur adukan iman dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang yang mendapatkan pentunjuk” [Al An’am:82]
    2. berbuat baik kepada kedua orang tua.
    وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
    “dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik kepada kedua orang ibu – bapaknya; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah – tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan dua orang ibu dan bapakmu,hanya kepada –Kulah kembalimu” [Qs. Luqman : 14]
    Kemudian luqman setelah menyebutkan wasiatnya kepada anaknya agar beribadah kepada Allah satu – satunya, menggandengkan dengan wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua karena besarnya hak keduanya.
    3. Taatilah keduanya dalam perkara yang ma’ruf.
    وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
    “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku, kemudian hanya kepada Kulah kembalimu, maka Kuberitaukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan [Qs Luqman : 15]
    Ibnu Katsir berkata;
    “maksudnya apabila kedua orang tua sangat bersemangat agar kamu mengikuti mereka berdua dalam agama mereka, maka janganlah terima hal itu. Dan hal itu tidak menghalangi untuk kamu mempergauli mereka berdua di dunia dengan baik, yaitu berbuat ikhsan kepada mereka, dan ikutlah jalan orang  -orang mukmin”
    4. Setiap amalan pasti dibalas.
    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
    “(luqman berkata) : “hai anakku, sesunguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha MengEtahui” [ Qs. Luqman : 16]
    5. Tegakan Sholat
    يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ
    “hai anakku, dirikanlah shalat”
    Melaksanakan dengan rukun-rukun dan kewajiban – kewajibannya dengan khusyu
    6. Amar Ma’ruf Nahi Munkar
    وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ
    “dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar”.
    (di kutip dari buku Kiat Sukses Mendidik Anak, Pustaka Al Haura)

    Memperhatikan Pendidikan Anak (3)

    By: rnppsalatiga On: Senin, Oktober 15, 2012
  • Berbagi


  • Mendoakan sang anak termasuk cara mendidik anak yang dituntunkan Islam. Saat orang tua mendoakan sang anak, saat itulah segenap perhatian tertuju pada sang buah hati. Oleh karena itu, agama mengingatkan agar orang tua tidak mengucapkan doa kejelekan kepada anaknya. Sebab, bisa saja doa kejelekan itu terkabul. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (yang terjemahannya):
    “Tiga doa yang tidak ragu lagi dikabulkan, yaitu doa (kejelekan) orang tua terhadap anaknya, doa orang yang tengah safar (bepergian) dan doa orang yang tengah dizalimi.” (HR. Abu Dawud)
    Doa kejelekan yang dipanjatkan orang tua bisa memberi pengaruh terhadap keadaan anak. Sebagai manusia, terkadang kejengkelan hinggap dalam jiwa. Namun, berusahalah agar kejengkelan tersebut tidak membuahkan kata-kata yang jelek yang ditujukan kepada anak. Sikap jengkel adalah manusiawi. Namun manakala kejengkelan itu menjadi sebab terlontarnya sumpah serapah, umpatan dan caci maki, maka ini menjadi sesuatu yang tak baik. Lapangkanlah dada, besarkanlah jiwa, dan pancangkanlah kesabaran dalam diri.
    “Janganlah kalian ucapkan kata (doa), kecuali yang baik. Karena sesungguhnya para malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim dari Ummul-mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha)
    Tak selamanya perilaku anak menyenangkan orang tua. Dari sekian sikap sang anak, ada saja diantaranya yang menjengkelkan orang tua. Keadaan ini semakin diperparah dengan keadaan sikap mental orang tua yang mudah terpancing situasi. Keadaannya bisa semakin runyam manakala orang tua dalam keadaan psikis tertekan (stress), lelah, penat dan tengah banyak menghadapi banyak masalah. Dalam kondisi semacam ini tingkat pengendalian orang tua menjadi melemah. Mudah marah, mengeluarkan kata-kata tak baik dan tindakan-tindakan tak terukur kerap muncul. Anak pun menjadi sasaran. Pelampiasan dihempaskan kepada sang anak akibat dari suasana hati, pikiran dan masalah yang mengakumulasi. Nas’alulllaha as-salaamah (Kita memohon kepada Allah keselamatan dari hal itu).
    Menyadari betapa sebagai manusia banyak dihinggapi kelemahan, maka doa menjadi kekuatan dahsyat bagi manusia beriman. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberi keteladanan dalam mendoakan sang buah hati. Teladan indah itu diabadikan dalam firman Allah Ta’ala.
    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Al-Baqarah:35)
    Doakanlah anak. Kala sepertiga malam terakhir, saat banyak manusia lelap tertidur, hening, hati dan pikiran pun masih terasa bening, panjatkanlah doa kebaikan bagi sang buah hati. Mohonkan kepada Yang Mahatahu dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Doakan ia menjadi anak yang shalih. Anak nan penuh bakti kepada kedua orang tuanya. Anak yang senantiasa memberi kebaikan kepada segenap manusia. Doakan ia menjadi pengamal dan pengawal dakwah tauhid. Doakan ia menjadi orang yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mencintai dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasul-Nya. Doakan ia kala sujud dan kala waktu-waktu dan (di) tempat-tempat dikabulkannya doa. Sesungguhnya Allah Maha mendengar doa hamba-NYa.
    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
    “Ya Rabb-ku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (Ash-Shaffaat:100)