14 Okt 2012

Al Hilm, Al Anah dan Ar Rifq: Ketinggian Akhlaq Lemah Lembut

By: rnppsalatiga On: Minggu, Oktober 14, 2012
  • Berbagi

  • Tiga perkara ini (Al Hilm, Al Anah dan Ar Rifq) memiliki makna yang berdekatan. Ketiganya mengandungmakna berlemah lembut dalam bermuamalah dengan sesama. Oleh karena itu, para ulama menjadikan pembahasannya dalam satu bab.
    Al Hilm (الحلم) maknanya adalah seseorang bisa menguasai dirinya ketika marah.  Jika seseorang dilanda amarah maka dengan segera dia bisa menguasai dirinya, tidak terburu-buru merespon atau memberikan balasan.
    Sedangkan Al ‘Anah (الأناة) maknanya adalah berhati-hati dalam menghadapi permasalahan dan tidak tergesa-gesa. Artinya seseorang tidaklah mengambil sebuah permasalahan dengan zhahirnya belaka, lalu dia pun dengan tergesa-gesa menghukumi permasalahan tersebut sebelum dia menelitinya dengan lebih lanjut.
    Adapun Ar Rifq (الرفق) maknanya adalah: Bermuamalah dengan manusia dengan lemah lembut bahkan sampai-sampai jika orang tersebut berhak untuk mendapat hukuman dan sanksi maka dia pun tetap memperlakukannya dengan lemah lembut.

    Tingginya kedudukan tiga sifat ini
    Ketiga sifat ini banyak mendapat pujian dalam di syariat Islam.
    Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Asyaj ‘Abdul Qais,
    إنَّ فيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ : الْحِلْمُ وَالأنَاةُ
    “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yaitu al hilm dan al anah”. (HR. Muslim)
    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ ، وَيَعْطِي عَلَى الرِّفْقَ مَا لاَ يَعْطِي عَلَى الْعُنْفِ ، وَمَا لاَ يَعْطِي عَلَى سِوَاهُ
    “Sesungguhnya Allah Rafiq (Maha Lembut), dan mencintai rifq/kelembutan, Dia memberikan pada rifq, apa-apa yang tidak diberikan pada sikap ‘anaf (keras), dan tidak pula Dia memberikan pada yang selainnya”. (HR. Muslim)
    Dari beliau (‘Aisyah) radhiyallahu ‘anha juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، وَإِيَّاكَ وَالْعُنْفِ ، وَالْفَحْشِ ، إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يَنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
    “Wajib bagimu untuk berbuat lemah lembut, berhati-hatilah dari sikap keras dan keji, sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memburukkan perkara tersebut”. (HR. Muslim)
    Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ ، يُحْرَمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ
    “Barang siapa yang diharamkan baginya rifq, diharamkan baginya kebaikan seluruhya”. (HR. Muslim)


    Kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalh figur yang penuh kasih sayang dan kelemahlembutan. Allah ta’ala berfirman,

    لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
    “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)
    Kasih sayang dan kelemahlembutan beliau nampak pada Hadits-hadits berikut:
    1. Kisah Arab Badui yang Kencing di Masjid
    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tatkala kami dimasjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang A’rabi  (Arab dusun) kencing di masjid, maka para sahabat menghardiknya, “Mah mah (yaitu pergi/tinggalkan)”.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jangan kalian hardik, biarkan dia (jangan putus kencingnya)”.
    Parasahabat membiarkan A’rabi  tersebut untuk menunaikan kencingnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya masjid-masjid tidak boleh untuk kencing, tetapi dipergunakan untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur’an”.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat-sahabatnya, “Sungguh kalian diutus untuk memudahkan dan tidak untuk menyulitkan, guyurlah air kencing tadi dengan satu ember air”.
    A’rabi  itu berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati selain kami”.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sungguh engkau telah mempersempit perkara yang luas.”(Muttafaqun ‘alaihi)

    2. Metode Beliau dalam Menegur Para Sahabat
    Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam ‘Aisyah-Sulami radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tatkala aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seseorang yang shalat itu bersin.
    Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu mendoakan, “Semoga Allah merahmatimu”.
    Orang-orang yang shalat melihat kepadaku dalam rangka mengingkari. Mu’awiyah mengatakan kepada mereka, “Kenapa kalian melihatku begitu?”
    Orang-orang yang shalat memukulkan tangan-tangan mereka ke paha-paha mereka dengan tujuan supaya diam, maka Muawiyah pun diam tatkala mereka diam sampai selesai shalat.
    Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Demi ibu bapakku, aku tidak pernah melihat seorang pengajar sebelum atau sesudahnya yang paling baik pengajarannya dibanding beliaumaka demi Allah, beliau tidak memojokkan aku, tidak memukulku dan tidak mencelaku”.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh sesuatu pun padanya yang berupa ucapan manusia, tetapi shalat itu tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an”.
    Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru lepas dari masa jahiliyah, dan Allah datangkan Islam. Dan sesungguhnya ada di antara kami orang-orang yang mendatangi dukun yang mereka mengakui ilmu ghaib”.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan kamu mendatangi mereka!!”
    Mua’wiyah radhiyallahu ‘anhu, “Dan di antara kami ada orang-orang yang ber-tathayur (menganggap sial dengan sesuatu).”
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Itu adalah sesuatu yang didapatkan pada dada-dada mereka, maka jangan sampai menghalangi mereka dari tujuan-tujuan mereka, karena yang demikian itu tidak berpengaruh, tidak mendatangkan manfaat mau pun mudharat.” (HR. Muslim)

    3. Bimbingan Beliau terhadap ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu
    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Orang-orang Yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamdan berkata, “Kebinasaan bagimu”. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bagi kalian juga”. ‘Aisyah berkata, “Kebinasaan bagi kalian, laknat dan murka Allah atas kalian”.
    Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahan wahai ‘Aisyah, wajib bagimu untuk lemah lembut, hati-hati kamu dari sikap keras dan keji”.
    ‘Aisyah, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang mereka ucapkan?”
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan, aku telah membalas mereka dan itu dikabulkan bagiku dan ucapan mereka terhadapku tidaklah dikabulkan “. (HR. Al Bukhari)
    Dalam riwayat Muslim, “Jangan kamu (wahai ‘Aisyah) menjadi orang yang berbuat keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka terhadap perkataan kotor/keji dan mengatakan dengan ucapan kotor”.

    4. Wasiat Beliau ketika Mengutus Para Da’i
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika mengutus sahabatnya dalam suatu urusan, beliau bersabda,
     بَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا وَيَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا
    “Gembirakanlah mereka, jangan bikin lari, permudah urusan mereka, jangan mempersulit”. (Muttafaqun ‘alaihi)

     
    Lemah Lembut dalam Mengajak Orang kepada Kebaikan
    Lemah lembut dalam berdakwah adalah salah satu modal utama di dalam berdakwah. Allah ta’ala berfirman,
    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)
    Dikatakan kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal, “Bagaimana sepantasnya seseorang memerintahkan kepada yang ma’ruf?”
    Beliau menjawab,
    “Hendaknya dia memerintah dengan lemah lembut dan merendahkan diri.” Kemudian beliau berkata, “Jika mereka memperdengarkan kepadanya perkara yang dia benci, jangan dia marah, sehingga jadilah dia ingin membela dirinya.” (Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal, hal 52)
    Al-Imam Sufyan berkata,
    “Janganlah memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar kecuali orang yang di dalamnya ada tiga perkara: Berlemah-lembut dengan apa yang ia perintahkan dan lemah-lembut dengan apa yang ia larang, adil dengan apa yang ia perintahkan dan adil dengan apa yang ia larang, mengilmui apa yang ia perintahkan dan mengilmui apa yang ia larang.” (Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal, hal 37)
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
    “Maka semestinya untuk mempunyai tiga hal: Ilmu, sikap lemah lembut, dan kesabaran. Ilmu sebelum memerintahkan dan melarang, sikap lemah-lembut bersamanya, dan kesabaran setelahnya. Dan setiap dari tiga hal ini mesti menemaninya dalam keadaan-keadaan ini.” (Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Ibnu Taimiyyah, hal 18)
    Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

    Sumber:
    -          Syarh Riyadhis Shalihin, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
    -          Qutufun min Syamaaili Al Muhammadiyyah, Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
    -          Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
    -          Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal

    Ash Shidq, Akhlaq yang akan Mengantarkan Kita ke Surga

    By: rnppsalatiga On: Minggu, Oktober 14, 2012
  • Berbagi

  • Di dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    إنَّ الصِّدقَ يَهْدِي إِلَى البرِّ ، وإنَّ البر يَهدِي إِلَى الجَنَّةِ ، وإنَّ الرَّجُلَ لَيَصدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقاً . وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهدِي إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ الله كَذَّاباً
    “Sesungguhnya ash shidq (kejujuran) itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga dan sesungguhnya seorang bermaksud untuk jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu menunjukkan kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu menunjukkan kepada neraka. Sesungguhnya seorang itu bermaksud untuk berdusta sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang suka berdusta.” (Muttafaq ‘alaih)
    Di dalam hadits ini terdapat perintah kepada kita untuk senantiasa berbuat ash shidq. Ash shidq artinya sesuainya berita yang disampaikan dengan kenyataan yang terjadi. Sebagai contoh, misalnya sekarang hari Ahad, lalu Anda ditanya hari apa ini? Kalau Anda menjawab hari Ahad berarti anda telah berucap dengan shidq (jujur) karena memang sesuai dengan kenyataan. Tapi bila Anda jawab hari Senin, maka ini disebut dusta.
    Di banyak ayat, Allah subhanahu wata’ala mengabarkan kepada kita keutamaan Ash shidq. Allah berfirman,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
    “Hai sekalian orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah engkau semua bersama-sama dengan para shiddiqin (orang-orang yang jujur perilakunya).” (At Taubah: 119)
    فَلَوْ صَدَقُوا اللهَ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ
    “Dan andaikata mereka itu bersikap benar terhadap Allah, pastilah hal itu amat baik untuk mereka sendiri.”(Muhammad: 21)
    وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
    “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Az Zumar: 33)

    Macam-macam Sikap Shidq
    Para ulama membagi ash shidq menjadi dua:
    1. Shidq (jujur) dalam Ucapan
    Yakni ketika seseorang ucapannya mencocoki apa yang ada di hatinya. Seperti orang yang mengatakan bahwa saya beriman dan memang di hatinya dia beriman maka dia pun telah jujur dalam ucapannya. Sebaliknya ketika dia mengucapkan bahwa dirinya beriman, tapi di hatinya justru kufur maka ini tidak lah disebut sebagai orang yang
     shadiq, orang yang jujur.
    Dari sini kita ketahui bahwa orang-orang yang munafiq bukanlah orang-orang yang beriman, karena ucapan mereka menyelisihi apa yang ada di hati mereka.
    2. Shidq (jujur) dalam Perbuatan
    Yakni ketika perbuatan seseorang mencocoki apa yang ada di hatinya. Orang yang berbuat riya’ tidaklah disebut sebagai
     shadiq. Ini karena secara lahirnya mereka memang nampak sebagai seorang yang rajin beribadah kepada Allah, tapi di dalam batinnya tidaklah demikian. Ibadah yang mereka lakukan semata-mata agar dilihat oleh manusia.
    Demikian juga para pelaku kebid’ahan. Mereka tidaklah disebut sebagai shadiq. Karena secara lahirnya mereka menunjukkan kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi batinnya tidaklah demikian.

    Pentingnya Ash shidq dalam Mua’amalah
    Ash shidq dalam muamalah adalah seorang senantiasa berucap dan bersikap jujur ketika dia berhubungan dengan sesama manusia. Di dalam keluarga, ketika bekerja, berhubungan sosial dengan yang lain seorang muslim harus mengedepankan ash shidq agar dia memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.
    Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,
    إنَّ الصِّدقَ يَهْدِي إِلَى البرِّ ، وإنَّ البر يَهدِي إِلَى الجَنَّةِ
    “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada surga.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Beliau juga mengatakan bahwa
    البَيِّعَانِ بالخِيَار مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا ، فَإنْ صَدَقا وَبيَّنَا بُوركَ لَهُمَا في بيعِهمَا ، وإنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بركَةُ بَيعِهِما
    “Dua orang yang berjual-beli itu dengan kebebasan (boleh meneruskan jual-belinya atau membatalkannya) selama keduanya itu belum berpisah. Apabila keduanya itu jujur dan menerangkan (kekurangan barang yang diperjualbelikan), maka diberi berkahlah jual-beli keduanya, tetapi jikalau keduanya itu menyembunyikan (kekurangan barang yang diperjualbelikan) dan sama-sama berdusta, maka dileburlah keberkahan jual-beli keduanya itu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

    Berdusta untuk Bercanda
    Termasuk kedustaan adalah apa yang dilakukan banyak orang di zaman kita, yakni berdusta dengan maksud untuk melucu atau bercanda. Dia berdusta agar orang lain yang mendengarnya tertawa. Perkara ini adalah perkara yang dilarang di dalam agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
    “Celakalah orang yang berkata dusta agar orang-orang tertawa! Celakalah dia! Celakalah dia!” (HR. Abu Daud no. 4990, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

    Dusta yang Diperbolehkan
    Sebagaimana hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas, seluruh kedustaan hukumnya haram dan semuanya akan mengantarkan kepada perbuatan fujur (jahat).
    Dikecualikan dari sini tiga perkara sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
    لَيْسَ الكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيراً ، أَوْ يقُولُ خَيْراً . وفي رواية مسلم زيادة ، قَالَتْ : وَلَمْ أسْمَعْهُ يُرْخِّصُ في شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُهُ النَّاسُ إلاَّ في ثَلاثٍ ، تَعْنِي : الحَرْبَ ، وَالإِصْلاَحَ بَيْنَ النَّاسِ ، وَحَدِيثَ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ، وَحَدِيثَ المَرْأةِ زَوْجَهَا
    “Bukannya termasuk pendusta orang yang mendamaikan antara para manusia, lalu ia menyampaikan berita yang baik atau mengatakan sesuatu yang baik.”
    Dalam riwayat Muslim disebutkan tambahannya bahwa Ummu Kultsum berkata,
    “Saya tidak pernah mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang dibolehkannya berdusta dari ucapan-ucapan yang diucapkan oleh para manusia itu, melainkan dalam tiga hal yaitu di dalam peperangan, mendamaikan antara para manusia dan perkataan seorang suami kepada istrinya serta perkataan istri kepada suaminya (perkataan yang dapat memperbaiki hubungan rumah tangga).”
    Namun para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kedustaan di dalam hadits ini bukanlah kedustaan murni, tapi kedustaan yang merupakan tauriyah. Tauriyah adalah seseorang mengucapkan sesuatu yang menyelisihi niat di hatinya. Ketika dia mengucapkan hal tersebut, si pendengar akan memahami berbeda dengan apa yang diinginkan oleh orang yang berucap.
    Contoh tauriyah adalah apa yang dikisahkan di dalam Ash Shahih tentang ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam ketika istri beliau ingin diambil oleh raja yang zhalim. Beliau mengatakan “Ini saudariku” agar raja tersebut tidak mengambil istri beliau. Yang beliau maksud dengan saudari di sini adalah saudari fillah, saudari seagama, namun yang akan dipahami oleh orang lain bahwa saudari di sini adalah saudari kandung.
    Demikian penjelasan tentang beberapa perkara yang berkaitan dengan ash shidq (kejujuran), semoga bisa bermanfaat dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan diri kita sebagai orang-orang yang memiliki sifat ash shidq.
    Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.
    Referensi:
    -
     Syarh Riyadhis Shalihin, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
    -
     Shahihul Adab wal Akhlaq, Iraqi Muhammad Hamid.

    Shadaqah Bukti Keimanan Kita

    By: rnppsalatiga On: Minggu, Oktober 14, 2012
  • Berbagi

  • Kehidupan seorang manusia akan berakhir pada kematian, dan setelah itu dia akan dibangkitkan di hari kiamat. Pada hari itu harta dan anak keturunannya tidak akan dapat memberinya manfaat. Yang bisa dia lakukan hanyalah melihat seberapa banyak kebaikan yang telah dia lakukan dan seberapa banyak dosa dan kejahatan yang dia lakukan.
    Allah ta’ala berfirman,
    يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ * فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
    “Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan amalan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS Al Zalzalah: 6-8)
    Di antara kebaikan yang akan bermanfaat bagi seorang manusia kelak di akhirat adalah shadaqah yang dia berikan ketika dia hidup di dunia. Allah ta’ala berfirman,
    وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
    “Dan barang-barang baik yang engkau semua nafkahkan itu adalah untuk dirimu sendiri dan engkau semua tidak menafkahkannya melainkan karena mengharapkan keridhaan Allah, juga barang-barang baik yang engkau semua nafkahkan itu, niscaya akan dibalas kepadamu dan tidaklah engkau semua dianiaya.” (al Baqarah: 272)

    Shadaqah adalah Bukti Keimanan
    Salah satu bukti keimanan seorang muslim adalah shadaqah. Ini ditunjukkan dalam hadits dari sahabat Al Harits bin Ashim Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمان ، والحَمدُ لله تَمْلأُ الميزَانَ ، وَسُبْحَانَ الله والحَمدُ لله تَملآن – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَينَ السَّماوات وَالأَرْضِ، والصَّلاةُ نُورٌ ، والصَّدقةُ بُرهَانٌ
    “Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanallah walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, shalat adalah cahaya, dan shadaqah itu merupakan bukti.” (HR. Muslim)
    Kenapa shadaqah disebut sebagai bukti keimanan? Hal ini karena harta adalah perkara yang dicintai oleh jiwa kita. Berat bagi diri kita untuk melepaskannya. Sehingga ketika seseorang merelakan hartanya tersebut di jalan Allah, maka ini adalah bukti yang menunjukkan kecintaannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka kita lihat sendiri, semakin tinggi keimanan seseorang, semakin banyak pula dia bershadaqah.
    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling tinggi keimanannya. Beliau tidak pernah tanggung-tanggung dalam bershadaqah. Pernah beliau menyedekahkan kambing beliau. Apakah satu ekor, atau dua ekor saja? Tidak. Beliau bershadaqah dengan satu lembah kambing.
    Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkisah,
    وَلَقَدْ جَاءهُ رَجُلٌ ، فَأعْطَاهُ غَنَماً بَيْنَ جَبَلَيْنِ ، فَرجَعَ إِلَى قَوْمِهِ ، فَقَالَ : يَا قَوْمِ ، أسْلِمُوا فإِنَّ مُحَمَّداً يُعطِي عَطَاءَ مَن لا يَخْشَى الفَقْر ، وَإنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُريدُ إِلاَّ الدُّنْيَا ، فَمَا يَلْبَثُ إِلاَّ يَسِيراً حَتَّى يَكُونَ الإسْلاَمُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا
    Seorang lelaki datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi pun memberikannya kambing yang berjumlah satu lembah. Orang tersebut lalu kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad telah memberikan suatu pemberian, dia tidaklah khawatir akan miskin”. Orang itu masuk Islam karena menginginkan dunia namun begitu dia masuk Islam, Islam itu lebih dicintai dari dunia dan seisinya. (HR. Muslim)

    Shadaqah Sebab Turunnya Keberkahan
    Di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
    Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan di suatu tanah lapang, lalu ia mendengar suara dari dalam awan, “Siramlah kebun si Fulan itu!”
    Kemudian menyingkirlah awan itu menuju ke tempat yang ditunjukkan, lalu menghabiskan airnya di atas tanah lapang berbatu hitam itu. Tiba-tiba sesuatu aliran air dari sekian banyak aliran airnya itu mengambil air hujan itu seluruhnya, kemudian orang tadi mengikuti aliran air tersebut….
    Sekonyong-konyong tampaklah olehnya seorang lelaki yang berdiri di kebunnya mengalirkan air itu dengan alat keruknya.
    Orang itu bertanya kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?”
    Ia menjawab, “Namaku Fulan,” dan nama ini cocok dengan nama yang didengar olehnya di awan tadi.
    Pemilik kebun bertanya, “Mengapa Anda menanyakan namaku?”
    Orang itu menjawab, “Sesungguhnya saya tadi mendengar suatu suara di awan yang inilah air yang turun daripadanya. Suara itu berkata, ‘Siramlah kebun si Fulan itu!’ Nama itu sesuai benar dengan nama Anda. Sebenarnya apakah yang Anda lakukan?”
    Pemilik kebun menjawab, “Adapun Anda menanyakan semacam ini, karena sesungguhnya saya selalu benar-benar memperhatikan hasil yang keluar dari kebun ini. Kemudian saya bershadaqah dengan sepertiganya, saya makan bersama keluarga saya yang sepertiganya dan saya kembalikan pada kebun ini yang sepertiganya pula (sebagai bibit).” (HR. Muslim)
    Lihatlah betapa shadaqah telah menjadi sebab petani tersebut diberikan keberkahan oleh Allah ta’ala dengan menyedekahkan sepertiga dari hasil pertaniannya.

    Harta Tidak Akan Berkurang Bila Dishadaqahkan
    Sebagian orang mungkin mengira kalau ketika harta dishadaqahkan maka dia akan berkurang. Ini tidaklah benar. Di dalam sebuah hadits dari Abu Kabsyah Umar bin Sa’ad al Anmari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَال ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً ، وَمَا تَواضَعَ أحَدٌ لله إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ – عز وجل -
    “Tidaklah shadaqah itu mengurangi banyaknya harta. Tidaklah Allah itu menambahkan pada diri seseorang sifat pemaaf, melainkan ia akan bertambah pula kemuliaannya. Juga tidaklah seorang itu merendahkan diri karena Allah, melainkan ia akan diangkat pula derajatnya oleh Allah ‘azza wajalla.” (HR. Muslim)
    Harta yang dia shadaqahkan akan diganti oleh Allah ta’ala, sebaliknya bila dia menahan shadaqahnya maka Allah akan tahan pula curahan nikmat-Nya.
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    مَا مِنْ يَوْمٍ يُصبحُ العِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزلانِ ، فَيَقُولُ أحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقاً خَلَفاً ، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً
    “Tiada seharipun yang sekalian hamba memulai paginya pada hari itu, melainkan ada dua malaikat yang turun. Seorang di antara keduanya itu berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menafkahkan itu akan gantinya,’ sedang yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan itu kerusakan pada hartanya.” (Muttafaq ‘alaih)
    Dari Asma’ binti Abu Bakar ash Shiddiq radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,
    لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ. وفي رواية : أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

    “Jangan engkau menyimpan apa-apa yang ada di tanganmu, sebab kalau demikian maka Allah akan menyimpan terhadap dirimu (rezeki akan ditahan oleh Allah –pent.) Dalam riwayat lain disebutkan, “Nafkahkanlah, atau berikanlah atau sebarkanlah dan jangan engkau menghitung-hitungnya, sebab kalau demikian maka Allah akan menghitung-hitung juga karunia yang akan diberikan padamu. Jangan pula engkau menahan (menunda-nunda) shadaqahmu, sebab kalau demikian maka Allah akan mencegah pemberian-Nya padamu.” (Muttafaq ‘alaih)
    Demikian sedikit pembahasan tentang shadaqah dan keutamaannya. Sebenarnya masih banyak lagi keutamaan shadaqah, tapi kita cukupkan dengan apa yang telah disampaikan karena keterbatasan tempat. Dan terakhir, marilah kita semua senantiasa mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
    اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بشقِّ تَمْرَةٍ
    “Takutlah kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan (bersedekah) potongan kurma.” (Muttafaq ‘alaih)
    Semoga Allah ta’ala menjadikan diri kita gemar bershadaqah dan menjadikan shadaqah kita sebagai benteng kita dari azab-Nya yang pedih kelak di akhirat.
    Wallahu ta’ala a’lam.

    Sumber:
    - Syarah Riyadhis Shalihin, asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin