17 Agu 2012

By: rnppsalatiga On: Jumat, Agustus 17, 2012
  • Berbagi

  • Kisah Pemuda Shalih Dan Kalung Mutiara

     
     
     
     
     
     
    1 Vote

    Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi’ bin Muhammad al-Bazar berkata, “Ketika itu aku tinggal di samping kota Makkah- sebuah kota yang semoga selalu dalam penjagaan Allah subhanahu wata’ala-. Suatu hari aku sangat lapar, sementara aku tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal rasa laparku.
    Tanpa aku duga aku menemukan sebuah bungkusan berbalut kain sutra diikat kaos kaki dari kain sutra pula. Maka tanpa pikir panjang bungkusan itu aku pungut lalu aku bawa ke rumah dan kubuka. Ternyata berisi seuntai kalung mutiara yang seumur hidup aku belum pernah melihatnya.
    Setelah itu, aku keluar rumah. Aku mendengar seorang kakek sedang mencari sebuah bungkusan yang hilang. Dia menjajikan hadiah sebesar 500 dinar. Kakek itu berkata, ‘Barangsiapa menemukan bungkusan berisi kalung mutiara, maka uang 500 dinar ini akan aku berikan sebagai imbalan kepada penemunya.’
    Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Aku sangat butuh, aku sangat lapar, aku bisa mengambil kalung ini dan memanfaatkannya.’ Tapi aku akan mengembalikannya.
    Aku berkata pada kakek itu, ‘Marilah kita ke rumah.’ Akupun membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, sang kakek menyebutkan ciri-ciri bungkusan yang hilang, diikat kaos kaki, jenis mutiara, jumlah dan benang yang digunakan untuk mengikat mutiara tersebut.
    Kemudian aku serahkan bungkusan tadi kepada kakek tersebut. Diapun memberikan kepadaku 500 dinar sebagai imbalan. Namun aku menolak, aku berkata, ‘Sudah menjadi kewajibanku untuk mengembalikan temuan ini kepada pemiliknya dengan tanpa mengambil upah.’
    Sang kakek berkata, ‘Kamu harus menerima uang ini.’ Dia terus menerus memaksaku untuk mengambil upah tersebut. Aku tidak mau menerimanya lalu dia pergi meninggalkan aku.
    Adapun cerita mengenai diriku selanjutnya bahwasanya aku lalu meninggalkan Makkah dengan menumpang sebuah perahu. Tanpa aku duga perahu tersebut oleng. Orang-orang pun bercerai-berai berikut seluruh hartanya. Namun aku selamat dari musibah ini berpegangan salah satu papan perahu tersebut.
    Beberapa hari aku berada di tengah lautan tanpa arah. Tiba-tiba aku terdampar di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku menuju masjid untuk membaca al-Qur’an. Di kampung itu tidak ada seorangpun yang bisa membaca al-Qur’an. Kemudian mereka mendatangiku untuk meminta mengajari mereka membaca al-Qur’an. Dari taklimku ini aku bisa mengumpulkan sejumlah uang.
    Suatu hari, aku menemukan beberapa lembar al-Qur’an di dalam masjid. Lembaran itu aku pungut. Orang-orangpun bertanya, ‘Apakah kamu bisa menulis?’ Aku jawab, ‘Ya’. Kemudian mereka memintaku untuk mengajari tulis menulis termasuk pada anak-anak dan remaja mereka.
    Sejak itu aku mengajari mereka, akupun bisa mengumpulkan sejumlah uang. Suatu hari masyarakat kampung ini berkata kepadaku, ‘Kami mempunyai seorang gadis yatim sangat kaya, bagaimana jika kamu menyuntingnya?’ Aku menolak tawaran mereka. Mereka tetap memaksaku untuk menikahi gadis tersebut. Akhirnya aku terima tawaran mereka.
    Setelah diadakan walimah dan isteriku ada di hadapanku, aku mendapati kalung yang dulu pernah kulihat, melingkar di lehernya. Mataku tak berkedip melihat kalung tersebut.
    Orang-orang yang melihatku mengajukan protes, ‘Wahai ustadz, engkau telah menghancurkan hati gadis yatim ini, sebab engkau hanya menatap kalungnya bukan wajahnya!.’
    Lalu aku ceritakan kisah kalung tersebut, orang-orang pun meneriakkan tahlil dan takbirhingga terdengar oleh seluruh penduduk pulau tersebut.
    Aku menanyakan kepada mereka, ‘Ada apa?’
    Mereka menjawab, ‘Kakek yang mengambil kalung darimu itu adalah ayah gadis ini. Kala itu kakek tersebut berkata, ‘Seumur hidupku, aku tidak pernah bertemu dengan seorang pemuda muslim yang baik seperti dia!’ Sang kakek hanya mampu memanjatkan do’a, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan pemuda itu agar aku dapat menikahkannya dengan anak gadisku.’
    Sekarang do’a itu telah dikabulkan Allah.
    Selanjutnya, aku tinggal bersama isteriku beberapa tahun, aku dikaruniai dua anak laki-laki. Kemudian isteriku meninggal dunia dia mewariskan kalung tersebut untukku dan untuk kedua anakku. Tanpa aku duga, dua anak laki-lakiku pun meninggal dunia. Maka tinggalah aku sebatang kara dan menjadi pemilik kalung isteriku. Kemudian kalung tersebut aku jual dengan harga 100 ribu dinar. Hartaku yang bisa kalian lihat sekarang ini adalah sisa-sisa harta itu.
    (Dzail Thabaqatul Hanafiah, 1-196)
    Dari buku “99 Kisah Orang Shalih” karya Muhammad bin Hamid Abdul Wahab.Penerbit Darul Haq, Jakarta. Cetakan VII, Dzulqa’dah 1432 H / Oktober 2011 M

    16 Agu 2012

    By: rnppsalatiga On: Kamis, Agustus 16, 2012
  • Berbagi

  • Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (selesai)

    August 10, 2012  //  Kisah Nabi dan RasulKisah Nyata  //  No comments
    mutiara hikmah

    Kesedihan Ya’qub Semakin Bertambah Namun Tetap Tidak Berputus Asa

    Maka ayah mereka pergi meninggalkan anak-anaknya dan mulai menangisi Yusuf dan saudaranya sampai matanya buta karena rasa sedih yang mendalam, lalu anak-anak mereka berkata, “Demi Allah, kamu senantiasa mengingat Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa”.
    Yakni sehingga badannya semakin kurus dan kekuatannnya semakin lemah.
    Ya’qub menjawab, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.”
    Maka Nabi Ya’qub meminta mereka mencari Yusuf dan saudaranya, ia menyadari sebagai seorang mukmin bahwa dirinya tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Selanjutnya anak-anaknya pergi menuju Mesir pada kesekian kalinya untuk mencari saudara mereka dan mencari sebagian makanan dengan membawa barang-barang yang kurang berharga. Ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, “Wahai al-Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada Kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.”

    Yusuf Memberitahukan Jati Dirinya

    Lalu Yusuf menimpali kata-kata mereka secara tiba-tiba dengan ucapan ini, “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?”.
    Mereka pun balik menjawab, “Mereka berkata, “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”.
    Yusuf menjawab, “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
    Maka saudara-saudaranya pun meminta maaf kepadanya dan mengakui kesalahannya, lalu Yusuf memaafkannya dan memintakan ampunan kepada Allah untuk mereka, lalu Yusuf bertanya kepada mereka tentang ayahnya. Dari berita yang disampaikan, Yusuf mengetahui bahwa ayahnya telah buta matanya karena kesedihannya atas kehilangan Yusuf, lalu Yusuf berkata kepada mereka, “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.”
    Kemudian mereka membawa gamisnya dan keluar dari Mesir menuju kampung mereka di Palestina. Di tengah perjalanan, sebelum kafilah itu datang, Nabi Ya’qub telah merasakan wangi Nabi Yusuf, ia berkata, “Sesungguhnya aku mencium wangi Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)“.
    Keluarganya berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.”

    Pertemuan Yusuf dengan Ayahnya

    Setelah berlalu beberapa hari, saudara-saudara Yusuf kembali kepada ayahnya dan memberitahukan kabar gembira tentang saudara mereka Yusuf, lalu mereka mengeluarkan gamis Yusuf dan meletakkan ke wajah ayahnya, maka penglihatannya pun kembali normal.
    Ketika itu, saudara-saudara Yusuf meminta kepada ayahnya agar memintakan ampunan untuk mereka kepada Allah, maka Nabi Ya’qub menjanjikan akan memintakan ampunan untuk mereka nanti di waktu sahur, karena waktu tersebut lebih mustajab.
    Selanjutnya Ya’qub beserta anak-anaknya (Bani Israil) pergi meninggalkan Palestina menuju Mesir, dan saat mereka masuk ke negeri Mesir, maka mereka disambut dengan sambutan yang besar. Yusuf juga memuliakan kedua orang tuanya dan menempatkannya di kursinya. Ketika itu, Ya’qub dan istrinya beserta sebelas anaknya tidak sanggup menahan dirinya untuk sujud sebagai penghormatan kepada Yusuf, dan ingatlah Yusuf akan mimpinya terdahulu ketika ia masih kecil; dan bahwa matahari dan bulan adalah ibu dan bapaknya, sedangkan sebelas bintang adalah saudara-saudaranya. Yusuf berkata, “Wahai ayahku Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 100)
    Ketika Nabi Yusuf memegang pemerintahan Mesir, maka Yusuf menggunakan kesempatan itu untuk mengajak rakyatnya menyembah Allah dan setelah selesai urusannya dan ia merasa bahwa hidupnya tidak lama, ia pun berkata sambil mengakui nikmat Allah, menyukurinya dan berdoa agar tetap di atas Islam sampai akhir hayat, Yusuf berkata, ” Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101)
    Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang paling mulia? Beliau menjawab, “Yaitu orang yang paling bertakwa.” Maka para sahabat berkata, “Bukan ini maksud pertanyaan kami?” Beliau pun bersabda, “Yaitu Yusuf seorang Nabi Allah putera Nabi Allah putera Nabi Allah putera kekasih Allah.
    Kisah Nabi Yusuf ini secara panjang lebar disebutkan Allah dalam surah Yusuf.
    Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
    Oleh: Marwan bin Musa
    Maraaji’:
    • Al Qur’anul Karim
    • Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Abu Yahya Marwan)
    • Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
    • Shahih Qashashil Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy)
    • dll.
    Baca artikel sebelumnya;

    Ibnu Atsir Tetap Berkarya Meski Tangan dan Kaki Lumpuh

    By: rnppsalatiga On: Kamis, Agustus 16, 2012
  • Berbagi

  • Ibnu Atsir Tetap Berkarya Meski Tangan dan Kaki Lumpuh


    Ibnu Atsir Tetap Berkarya Meski Tangan dan Kaki Lumpuh

    , tetap berkarya meski tangan dan kaki lumpuh

    Dalam dunia , nama Ibnu Atsir memang tidak setenang Imam Al-Bukhari, Imam Muslim ataupun Imam Ahmad. Namun demikian, para Ulama  sangat mengapresiasi karya ilmiah beliau dalam salah satu aspek ilmu  yang beliau dalami dan merasakan manfaatnya yang besar.
    Terlahir dengan nama Mubarak, putra Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Wahid Asy-Syaibani Al-Jazari, di kota Maushil (Mosul, Irak) pada tahun 544 H. Selanjutnya lebih populer dengan panggilan Ibnul Atsir, putra al-Atsir yang merupakan laqab (julukan) sang ayah.

    Sejak dini, beliau memasuki dunia ilmu dengan penuh semangat. Ini sesuai dengan pengakuan beliau dalam mukadimah kitab Ilmi’ul Ushul Fii Ahaditsir Rasul, “Sejak memasuki masa remaja dan dalam usia belia, aku sangat tertarik untuk thalabul ilmi (belajar ilmu agama), duduk bersama ulama dan berupaya sebisa mungkin untuk menyerupai mereka (para Ulama). Itu adalah kenikmatan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku lantaran menjadikan hal-hal tersebut sanggup mengambil hatiku. Maka, aku mengerahkan seluruh daya untuk memperoleh berbagai macam ilmu yang dapat aku raih dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga terbentuk pada diriku kemampuan menguasai sisi-sisi yang tersembunyi dan mengetahui segi-segi yang sulit. Tidak kusisakan upayaku sedikit pun (untuk urusan itu). Allah-lah yang memberiku taufik untuk dapat mencari ilmu dengan baik dan meraih tujuan mulia.”
    Seiring dengan perjalanan waktu, kemampuan ilmiah beliau pun mencapai kematangan. Tidak hanya menguasai satu disiplin ilmi. Ilmu bahasa Arab, Tafsir, Hadits dan Fikih adalah deretan pengetahuan beliau yang menonjol. Karya-karya ilmiah di bidang-bidang yang telah disebutkan menjadi bukti nyata akan kepakaran beliau di dalamnya. Tak ketinggalan, Ulama yang juga akrab dengan panggilan Abu Sa’adat Majduddin ini juga dikenal sebagai seorang penyair ulung. Akan tetapi, dari seluruh aspek keahliannya itu, kedalamannya dalam ilmu hadits, terutama yang berkaitan dengan ilmul gharib lah yang paling menonjol. Namanya pun sering dikaitkan dengannya lantaran telah melahirkan karya yang disebut-sebut tiada tandingannya. Orang lebih mengenal beliau dari sisi itu.
    Dalam sejarah kehidupan yang harus dilalui, diceritakan bahwa beliau mengidap suatu penyakit yang akhirnya melumpuhkan fungsi anggota geraknya, dua tangan dan kakinya. Dampaknya, beliau pun tidak bisa lagi menulis sendiri. Untuk aktifitas yang memerlukan gerak banyak, beliau harus ditandu. Karena itu, beliau lebih sering berada di dalam rumahnya.
    Kendatipun mengalami hidup dalam keterbatasan secara fisik, hal itu tidak mengahalangi beliau untuk mewariskan ilmi-ilmiu bagi umat. Bahkan ternyata, kitab-kitab karangan beliau, kebanyakan tersusun saat beliau tak berdaya menghadapi penyakit yang dideritanya. Ada sejumlah murid yang membantu beliau menuliskannya.

    Urgensi An-Nihayah fi Gharibil Haditsi wal Atsar

    Imam Ahmad pernah ditanya tentang satu kata sulit yang terdapat dalam sebuah hadits. Beliau menjawab, “Tanyakanlah itu kepada orang-orang yang menguasainya (ashhabul gharib). Aku tidak suka berbicara tentang perkataan Rasulullah dengan dasar prasangka semata yang bisa mengakibatkan aku melakukan kesalahan.”
    Ungkapan Imam Ahmad ini sedikit banyak menandakan pentingnya penguasaan satu disiplin ilmu dalam dunia ilmu hadits yang disebut dengan ilmul gharib, yang nantinya menjadi titik keunggulan Ibnul Atsir dan karyanya.
    Secara mudah, pengertian al-ghariib, dikatakan Ibnu Shalah, ialah satu ungkapan untuk menerangkan kata-kata yang (belum) tidak jelas maknanya, susah dipahami yang ada dalam matan (teks-teks) hadits lantaran sudah jarang pakai (orang)”. Jadi yang masuk kategori kata gharib (kata-kata asing) adalah kata yang sudah termarjinalkan pemakaiannya, sulit dipahami, tidak terbiasa didengar telinga.
    An-Nihayah fi Gharibil Haditsi wal Atsar itulah nama kitab susunan Ibnul Atsir dalam masalah ini. Sebagaimana namanya, An-Nihayah (penghabisan), kitab ini kandungannya kaya, sangat mencukupi dan memadai untuk menjadi jembatan memahami kata-kata sulit yang terdapat dalam hadits-hadits, lantaran telah menggabungkan kitab-kitab sebelumnya, plus tambahan dari beliau yang banyal. Selain itu, melalui kitab ini, akan mudah dicari kata sulit yang diinginkan dan dengan cara yang mudah, tidak seperti karya-karya ulama sebelumnya dalam bidang yang sama yang masih menyisakan kesulitan dalam mencari kata perkata. Tak pelak, bila dijadikan sebagai umdah, pegangan utama dalam ilmul gharib.
    Tentang kitabnya, As-Suyuthi berkata, “Kitabnya adalah kitab terbaik dalam bahasan gharibul hadits, paling lengkap dan paling terkenal, serta paling sering dipakai.”

    Di antara pelajaran yang dapat dipetik dari biografi Ibnu Atsir:

    1. Manfaat besar memulai mendalami agama sejak dini. Pengaruhnya akan lebih kaut di masa dewasa.
    2. Pentingnya ketekunan dalam belajar untuk menggapai tujuan.
    3. Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan hamba-Nya untuk memberi kemanfaatan bagi sesama bila jujur dalam niatya meski menderita kekurangan secara fisik. Wallahu a’lam.
    Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 06 Tahun XIV 1431 H./2010 M.
    Perihal Biografi Ibnu Atsir.